prasasti atas nama cinta
telah lama berdiri di atas tanah yang penuh ludah
yang di keluarkan dari mulut-mulut
yang terus mengoceh kebohongan
bahwa akulah cerminmu
bahwa akulah yang tak ada di dirimu
bahwa akulah akhir penantianmu
bahwa akulah tinta biru tuk mewarnai bentangan langit hidupmu
bahwa akulah taman indah yang bersemayam di hatimu
bahwa aku adalah kamu, kamu adalah aku, berteduh di bawah sayap-sayap dewi cinta

0 komentar:
Posting Komentar