Prolog:
Alexander Pope, said;
"...to error is human,to forgive is divine..."
Monolog:
Ada yang bilang,memohon maaf jauh lebih susah dari pada memaafkan..
karena itu,aku memilih yang lebih mudah...
MEMAAFKANMU..!
hehehee..
MARAHABAN YAA RAMADHAN..!
Biar puasanya bisa afdol..MAAFKAN AKU,ya...
Epilog:
Craig David, singing;
"...i'm only human,born to make mistake..."
I'm Yours
well you done done me and you bet i felt it
i tried to get you but you're so hot that i melted
i fell right through the cracks
and i'm trying to get back
before the cool done run out
i'll be giving it my bestest
nothin's going to stop me but devine intervention
i reckon its again my turn to win some or learn some
i won't hesitate no more
no more it cannot wait, i'm yours
well open up your mind and see like me
open up your plans and damn you're free
look into your heart and you'll find love love love
listen to the music of the moment maybe sing with me
ah la peaceful melody
its your godforsaken right to be loved love loved love love
so i won't hesitate no more
no more it cannot wait i'm sure
theres no need to complicate
our time is short
this is our fate, i'm yours
i been spending way too long checking my tongue in the mirror
and bendin over backwards just to try to see it clearer
my breath fogged up the glass
so i drew a new face and laughed
i guess what i'm sayin is there ain't no better reason
to rid yourself of vanity and just go with the seasons
its what we aim to do
our name is our virtue
i won't hesitate no more
no more it cannot wait i'm sure
theres no need to complicate
our time is short
it cannot wait, i'm yours
Label:
Lagu
" SuaRa Rindu Ku "
Saat rindu menghinggapi pagimu, apa yang akan kau hembuskan ?
: akan aku hembuskan nafas rinduku..
Saat rindu mencerahkan siangmu, apa yang akan kau pancarkan ?
: aku akan pancarkan sinar untuk jiwa yang sepi..
Saat rindu mendinginkan malammu, apa yang akan kau hangatkan ?
: akan kuhangatkan malamku dengan lambaian merdu suaramu..
Saat rindu membuatmu terjaga ditengah malam, apa yang kau lakukan ?
: aku akan bertanya pada malam, apa rinduku sampai kepadanya disaat aku merindukannya..
: akan aku hembuskan nafas rinduku..
Saat rindu mencerahkan siangmu, apa yang akan kau pancarkan ?
: aku akan pancarkan sinar untuk jiwa yang sepi..
Saat rindu mendinginkan malammu, apa yang akan kau hangatkan ?
: akan kuhangatkan malamku dengan lambaian merdu suaramu..
Saat rindu membuatmu terjaga ditengah malam, apa yang kau lakukan ?
: aku akan bertanya pada malam, apa rinduku sampai kepadanya disaat aku merindukannya..
Label:
Cinta
Kamu itu....
Ijinkan ku bongkar siapa kau sebenarnya...
Kau itu penulis di pikiranku
Kau itu penyair di lidahku
Kau itu pelukis di hatiku
Kau itu petarung di jiwaku
Kau itu pencinta di cintaku
Itulah kamu...!
Kau itu penulis di pikiranku
Kau itu penyair di lidahku
Kau itu pelukis di hatiku
Kau itu petarung di jiwaku
Kau itu pencinta di cintaku
Itulah kamu...!
Label:
Cinta
Janganlah kau datang...!
Kau kah cinta yang aku cari?
atau kau hanya hendak singgah,
lalu pergi meninggalkanku
dalam pesakitan
Bila kutahu cintamu seperti itu
kan ku usir kau sejak kau datang
tanpa sempat mencintaiku
Aku tahu
aku butuh cinta
yang mampu mengubur masa laluku
tapi bila cinta yang kan hadir
hanya akan menambah tumpukan luka
aku mohon
janganlah kau datang...!
atau kau hanya hendak singgah,
lalu pergi meninggalkanku
dalam pesakitan
Bila kutahu cintamu seperti itu
kan ku usir kau sejak kau datang
tanpa sempat mencintaiku
Aku tahu
aku butuh cinta
yang mampu mengubur masa laluku
tapi bila cinta yang kan hadir
hanya akan menambah tumpukan luka
aku mohon
janganlah kau datang...!
Label:
Cinta
Apa itu perlu...?
Aku memang belum pernah mengatakan cinta padamu,
tapi apa itu perlu?
kau kan tlah memiliki hatiku
kau kan tlah bersarang di rinduku
dan kau pun tlah mengusik mimpiku
Apa kau masih membutuhkan ucapan cinta dariku?
kau kan tahu...
bila hariku hampa tanpamu
bila mimpiku kosong tanpamu
bila aku sangat membutuhkanku
tapi apa itu perlu?
kau kan tlah memiliki hatiku
kau kan tlah bersarang di rinduku
dan kau pun tlah mengusik mimpiku
Apa kau masih membutuhkan ucapan cinta dariku?
kau kan tahu...
bila hariku hampa tanpamu
bila mimpiku kosong tanpamu
bila aku sangat membutuhkanku
Label:
Cinta
Aku dengar
Kalau hanya cinta
yang kau ucapkan,
aku pasti dengar
Kalau hanya rindu
yang kau ucapkan,
aku juga dengar
Tapi...
Apa kau mau mengaku,
kalau tulang rusukku lah
yang kau curi??
yang kau ucapkan,
aku pasti dengar
Kalau hanya rindu
yang kau ucapkan,
aku juga dengar
Tapi...
Apa kau mau mengaku,
kalau tulang rusukku lah
yang kau curi??
Label:
Cinta
Apa kau melarangku?
Apa kau melarangku,
tuk merindumu?
Apa kau melarangku,
membayangkan senyummu?
Apa kau melarangku,
menuliskan namamu di hatiku?
Apa kau tak mencintaiku??
tuk merindumu?
Apa kau melarangku,
membayangkan senyummu?
Apa kau melarangku,
menuliskan namamu di hatiku?
Apa kau tak mencintaiku??
Label:
Cinta
Bila kamu...
Bila senyummu mudah kulihat,
ntah berapa foto yang ku bingkai
Bila namamu mudah kutulis,
ntah berapa kertas yang tertumpuk
Bila dirimu mudah kupeluk,
ntah berapa lama tak kulepas
ntah berapa foto yang ku bingkai
Bila namamu mudah kutulis,
ntah berapa kertas yang tertumpuk
Bila dirimu mudah kupeluk,
ntah berapa lama tak kulepas
Label:
Cinta
Ada yang...
Ada yang berkata padaku,
"...kau hanya pandai berkata-kata..."
dengan sedikit lirih aku menjawab,
"...tapi aku tak bisa membohongimu!..."
"...kau hanya pandai berkata-kata..."
dengan sedikit lirih aku menjawab,
"...tapi aku tak bisa membohongimu!..."
Label:
Cinta
Bila
Bila rindu hanya sebuah kata,
kan ku biarkan dia tersimpan di tumpukan buku
Bila cinta hanya sebuah kata,
kan ku biarkan dia tertulis di dalam buku
Bila kamu hanya sebuah nama,
kan ku biarkan dia terucap di tangga nada
kan ku biarkan dia tersimpan di tumpukan buku
Bila cinta hanya sebuah kata,
kan ku biarkan dia tertulis di dalam buku
Bila kamu hanya sebuah nama,
kan ku biarkan dia terucap di tangga nada
Label:
Cinta
Pencuri Hati
Kau rampas hatiku
dengan matamu
Kau curi hatiku
dengan senyummu
Kau genggam hatiku
dengan cintamu
dengan matamu
Kau curi hatiku
dengan senyummu
Kau genggam hatiku
dengan cintamu
Label:
Cinta
Terpisah
Di sana ku di tunggu
di sana ku di rindu
di sana ku di nanti
Tapi di sini
hanya menahan rindu
yang bisa kulakukan
di sana ku di rindu
di sana ku di nanti
Tapi di sini
hanya menahan rindu
yang bisa kulakukan
Label:
Cinta
BerteriaKKK!
+ Apa yang kau bisikkan di telingaku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku merindukanmu
aku merindukanmu...!
- Aku membisikkan
kata cinta secara perlahan-lahan ke telingamu
dan itu dari hatiku
+ Apa yang kau lukiskan di mataku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku mendambamu
aku mendambamu...!
- Aku melukiskan
sebuah lambang cinta di matamu
dan itu hanya untukmu
+ Apa yang kau simpan di kepalaku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku memikirkanmu
aku memikirkanmu...!
- Aku menyimpan
namaku di kepalamu
hingga membuatmu selalu ingat diriku
+ Apa yang kau tulis di hatiku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku mencintaimu
aku mencintaimu...!
- "...aku mencintaimu..."
itu yang aku tulis di hatimu
hingga membuatku ingin berteriak,
aku merindukanmu
aku merindukanmu...!
- Aku membisikkan
kata cinta secara perlahan-lahan ke telingamu
dan itu dari hatiku
+ Apa yang kau lukiskan di mataku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku mendambamu
aku mendambamu...!
- Aku melukiskan
sebuah lambang cinta di matamu
dan itu hanya untukmu
+ Apa yang kau simpan di kepalaku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku memikirkanmu
aku memikirkanmu...!
- Aku menyimpan
namaku di kepalamu
hingga membuatmu selalu ingat diriku
+ Apa yang kau tulis di hatiku,
hingga membuatku ingin berteriak,
aku mencintaimu
aku mencintaimu...!
- "...aku mencintaimu..."
itu yang aku tulis di hatimu
Label:
Cinta
Calon Novel, Chapter 4
Sorry,euy...
Chapter-chapter selanjutnya menyusul ya...
Blom dapet moment nya niy...
atau ada yg mau bantuin?
klo mau...silahkan ditulis aja di kotak komentar
atau kirim ke email aku aja...
marxfathom@yahoo.com
ditunggu,euy...
Chapter-chapter selanjutnya menyusul ya...
Blom dapet moment nya niy...
atau ada yg mau bantuin?
klo mau...silahkan ditulis aja di kotak komentar
atau kirim ke email aku aja...
marxfathom@yahoo.com
ditunggu,euy...
Label:
Cerita
Calon Novel, Chapter 3
Suara di ujung telefon…
“…apa kabar lo, than? Kemana aja lo, udah hampir seminggu kaga kerumah? Dicariin mama tuh, kangen katanya…”
“…fine kok, Cuma lagi pilek aja nih, Nad. biasalah… lo yang kemana aja, gw sms lo, kaga pernah di bales…bales kek biar sekali aja? “
“ akh, yang bener lo, nyokap lo kangen ama gw, alhamdulillah…finally ada juga yang kangen ama gw, I miss u too tante…” jawabku sedikit becanda.
“…dasar gila lo, nyokap gw tuch, masih juga lo gombalin…hehehe… Sorry nih than, bukannya kaga mau bales, pulsa gw empty banget. Lagian juga sms lo kaga penting tau isinya, besok-besok klo sms gw, jangan lupa sekalian ama 14 digitnya, pasti dech gw bales! Hehehe…”
“…waduh-waduh, nenk yang satu ini matre-nya kaga ilang-ilang juga ya…berobat donk!hehehe…”
“ lagi ngapain lo, Nad? Tadi lo ga ada kuliah ya? Gw cari-cari lo kaga keliatan juga, malah gw sampe nungguin ditempat favorit lo yang di lantai 2, kaga muncul juga…hampir pingsan gw disitu!”
“…ga ada kuliah tadi. Nyariin gw…ada apa nih…are u miss me? hihihi..”
“ tempat favorit gw yang dilantai 2…yang dimana tuh?!”
“…I miss u so much lah, pokoknya much-much banget dech, sampe semingguan gw ga bisa tidur, bahkan gw sampe lupa ngebedain antara malam dengan siang, sakaw banget gw ama lo!hehehe…”
“ tempat favorit lo yang dilantai 2 itu kan TOILET WANITA! Bener kaga?hehehe…”
“…gila lo yee..itu mah tempat nonkrong favorit lo kali… lo lagi ngapain, than?”
“…kaga lagi ngapa-ngapain sich…bentar lagi mau mandi aja.”
“…ya udah, mandi dulu sana, bau banget tau!”
“…yee rese lo… ok dech,gw mau mandi dulu ya…”
“…nah gitu donk bersih!hehehe… udah dulu ya… woi, maen donk kesini…”
“…ok dech, insyaallah besok gw kesana…”
“…gw tunggu ya besok. Bye…”
Tut..tut..tut… Suara di ujung telefon.
…
malam cepatlah berganti
kan kutemui dia esok pagi
karena dia menanti dengan secangkir kopi.
…
sinar pagi kini memanggilmu
mengatasnamakan keindahan
tinggalkan mimpi semalam, yang menggelapkan keluguanmu…
akh…sudah jam 8.00 pagi…gerutuku sambil mencoba bangun dari tempat tidur. Kemudian mengambil handphone yang tersimpan di atas meja, untuk mengetik sms…
selamat pagi dunia..
pagi ini kecerahanmu tlah mengusik semangatku
tuk sekedar merasakan sentuhan lembut embunmu…
Bangun donk tuan putri…dah pagi niy! hehehe.
Ntar sore gw kerumah lo ya…
Bip..bip..
Messages delivered
To: Nadia
+62817628xxx
…mmm, bikin teh dulu akh… kebiasaanku setelah bangun tidur, bagiku hal-hal lain dapat dilakukan setelahnya, termasuk mandi!
Yang lain blom pada bangun lagi, mentang-mentang ini hari minggu…jam tidur berubah! Bisikku seolah aku lah yang bangun lebih pagi, lain daripada biasanya…
Lalu aku menyalakan televisi.
Lagi-lagi kekerasan tergambar jelas disana, peperangan, Negara adi kuasa yang mengaku sebagai Negara demokratis melakukan serangan militer terhadap Negara yang penduduknya mayoritas islam hanya karena Negara tersebut di curigai sebagai tempatnya para teroris internasional bermukim. Sungguh aneh, apakah kata-kata curiga sudah dianggap bersalah bagi mereka? Apakah Islam identik dengan terorisme bagi mereka? Apakah peperangan merupakan jalan keluar yang nomor satu sebelum hukum? Apakah kata-kata damai benar-benar telah terhapus dari otak mereka? Apakah cinta telah digelapkan oleh benci? Apakah…apakah…hati mereka benar-benar dapat menerima itu??... Aku tak mengerti!!!
“…apa kabar lo, than? Kemana aja lo, udah hampir seminggu kaga kerumah? Dicariin mama tuh, kangen katanya…”
“…fine kok, Cuma lagi pilek aja nih, Nad. biasalah… lo yang kemana aja, gw sms lo, kaga pernah di bales…bales kek biar sekali aja? “
“ akh, yang bener lo, nyokap lo kangen ama gw, alhamdulillah…finally ada juga yang kangen ama gw, I miss u too tante…” jawabku sedikit becanda.
“…dasar gila lo, nyokap gw tuch, masih juga lo gombalin…hehehe… Sorry nih than, bukannya kaga mau bales, pulsa gw empty banget. Lagian juga sms lo kaga penting tau isinya, besok-besok klo sms gw, jangan lupa sekalian ama 14 digitnya, pasti dech gw bales! Hehehe…”
“…waduh-waduh, nenk yang satu ini matre-nya kaga ilang-ilang juga ya…berobat donk!hehehe…”
“ lagi ngapain lo, Nad? Tadi lo ga ada kuliah ya? Gw cari-cari lo kaga keliatan juga, malah gw sampe nungguin ditempat favorit lo yang di lantai 2, kaga muncul juga…hampir pingsan gw disitu!”
“…ga ada kuliah tadi. Nyariin gw…ada apa nih…are u miss me? hihihi..”
“ tempat favorit gw yang dilantai 2…yang dimana tuh?!”
“…I miss u so much lah, pokoknya much-much banget dech, sampe semingguan gw ga bisa tidur, bahkan gw sampe lupa ngebedain antara malam dengan siang, sakaw banget gw ama lo!hehehe…”
“ tempat favorit lo yang dilantai 2 itu kan TOILET WANITA! Bener kaga?hehehe…”
“…gila lo yee..itu mah tempat nonkrong favorit lo kali… lo lagi ngapain, than?”
“…kaga lagi ngapa-ngapain sich…bentar lagi mau mandi aja.”
“…ya udah, mandi dulu sana, bau banget tau!”
“…yee rese lo… ok dech,gw mau mandi dulu ya…”
“…nah gitu donk bersih!hehehe… udah dulu ya… woi, maen donk kesini…”
“…ok dech, insyaallah besok gw kesana…”
“…gw tunggu ya besok. Bye…”
Tut..tut..tut… Suara di ujung telefon.
…
malam cepatlah berganti
kan kutemui dia esok pagi
karena dia menanti dengan secangkir kopi.
…
sinar pagi kini memanggilmu
mengatasnamakan keindahan
tinggalkan mimpi semalam, yang menggelapkan keluguanmu…
akh…sudah jam 8.00 pagi…gerutuku sambil mencoba bangun dari tempat tidur. Kemudian mengambil handphone yang tersimpan di atas meja, untuk mengetik sms…
selamat pagi dunia..
pagi ini kecerahanmu tlah mengusik semangatku
tuk sekedar merasakan sentuhan lembut embunmu…
Bangun donk tuan putri…dah pagi niy! hehehe.
Ntar sore gw kerumah lo ya…
Bip..bip..
Messages delivered
To: Nadia
+62817628xxx
…mmm, bikin teh dulu akh… kebiasaanku setelah bangun tidur, bagiku hal-hal lain dapat dilakukan setelahnya, termasuk mandi!
Yang lain blom pada bangun lagi, mentang-mentang ini hari minggu…jam tidur berubah! Bisikku seolah aku lah yang bangun lebih pagi, lain daripada biasanya…
Lalu aku menyalakan televisi.
Lagi-lagi kekerasan tergambar jelas disana, peperangan, Negara adi kuasa yang mengaku sebagai Negara demokratis melakukan serangan militer terhadap Negara yang penduduknya mayoritas islam hanya karena Negara tersebut di curigai sebagai tempatnya para teroris internasional bermukim. Sungguh aneh, apakah kata-kata curiga sudah dianggap bersalah bagi mereka? Apakah Islam identik dengan terorisme bagi mereka? Apakah peperangan merupakan jalan keluar yang nomor satu sebelum hukum? Apakah kata-kata damai benar-benar telah terhapus dari otak mereka? Apakah cinta telah digelapkan oleh benci? Apakah…apakah…hati mereka benar-benar dapat menerima itu??... Aku tak mengerti!!!
Label:
Cerita
Calon Novel, Chapter 2
“ selamat malam, dunia…! “ bisikku seakan memberikan ijin kepada dunia yang segera ingin menyerahkan tubuhnya kepada sang pelepas lelah, yang sangat dirindukan pada saat kebosanan telah menghimpit, atau sekedar menghindari kejamnya tekanan-tekanan di siang hari.
Inikah yang dinamakan insomnia, hujatku, disaat semua sudah tak sanggup menghitung bintang, sedangkan aku disini masih berkutat dengan jari, seakan aku sanggup menentukan jumlahnya. Hebat.
Entah apa yang ada dipikiranku, aku sendiri hingga malam ini masih kesulitan untuk mendefinisikan atau setidaknya paparkanlah rasa yang singgah di rumah pikiran-ku, ia datang pada saat malam telah menunjukkan wujud asli-nya, seakan hal itu sudah menjadi kebiasaannya, aku sendiri tak bisa menghilangkan kebiasaannya itu, tapi setidaknya kurangilah waktu singgahmu, pintaku memohon.
Malam ini ia sudah berdiri disana, di salah satu ruang pikiranku, tempat yang sangat ia suka, mungkin ia merasa nyaman disana, memang aku yang menyiapkan ruangan itu khusus untuknya sejak aku berteman dengannya, aku dikenalkan oleh kekasih sahabatku, kini mantan.
Apa aku harus menikmati kehidupan malam, berlindung pada kerlap-kerlip lampu gemerlap, berdiri lunglai mengikuti irama musik disco di lantai dansa setelah menenggak bergelas-gelas alcohol yang menjungkir balikkan otakku, hanya untuk menghindar dari bayanganmu malam ini, seperti malam-malam yang lalu?
…
“ siapa sih yang nelpon pagi-pagi gini! “ gerutuku sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10, sudah siang rupanya, setelah terdengar dering telfon dirumah kontrakan yang aku tempati dengan teman-temanku, kebetulan mereka masih betah dikampungnya masing-masing, jadi aku lagi sendirian di rumah ini, ya mau gak mau aku yang harus mengangkat telfon itu.
“ sebentar! “ teriakku menjawab deringan telfon yang seakan sudah tak sabar untuk di angkat. Untung aku butuh kamu, kalau tidak, entah apa yang akan kuperbuat padamu…
….
Dengan terburu-buru setelah kuliah diruangan yang berada dilantai 3, aku langsung menuju kantin. Akh..itu dia, menarik nafas lalu menghampirinya.
“ ada apa niy? Sepertinya gawat sekali sampe gak bisa di omongin di telefon segala. “
“ duduk aja dulu disini. ” jawabnya sambil menunjuk kursi yang berada tepat disampingnya. Serius sekali Renna…
Renna adalah seseorang yang belum lama ini mengisi hari-hari sahabatku, Decky. Entah dimana mereka berkenalan hingga menjadi sepasang kekasih karena mereka jelas-jelas berbeda tempat kuliah, bahkan berbeda suku, suku yang satu masih menganut faham yang kolot dengan kata lain menggunakan sistem perjodohan dan tidak boleh ini-itu, sedangkan suku yang satunya sudah mulai ber-teriak kebebasan. Tapi dia tidak begitu peduli, sesuatu yang wajar selaku pendatang, mulai bisa beradaptasi. Kadang aku memanggilnya dengan sebutan Penggombal Sejati, karena dia termasuk yang mudah menaklukkan bahkan meluluhlantakkan wanita, mungkin hanya hati saja yang tersisa, itu pun masih diracuni dengan virus ganas yang berhasil aku identifikasikan dan aku menamainya ‘kenangan indah’. Dia hanya tertawa bila aku berkata seperti itu, tanpa pernah membantah, kadang meng-amin-inya dengan suara lantang. Dalam hal ini, Renna termasuk yang telah terkena radiasi racunnya, wanita yang radiusnya dekat dengan sahabatnya sendiri, aku.
Aku sebenarnya belum begitu lama mengenal Renna, berawal karena Decky-lah ia menjadi dekat denganku… hanya berputar pada satu titik saja, mungkin…
…
“ pasti ada masalah lagi ya dengan Decky? Berbuat apa lagi dia? “ Tanyaku seakan sering terjadi hal-hal yang seperti ini.
“ ngga ada, kenapa sih selalu dikira aku ada masalah dengan Decky? “ jawabnya mengerti yang aku tanyakan.
“ ngga, biasanya gitu… jadi ada apa dong sebenarnya sampe perlu nelfon pagi-pagi buta? “ becanda menanggapi pertanyaannya.
“ apa! Pagi-pagi buta?! Itu udah jam 10 pagi menjelang siang tau! “ teriaknya seakan hanya kami saja di kantin itu, dengan wajah sedikit keheranan.
“ jadi kamu gak tau ya?! Itu kan masih pagi-pagi buta bagi kaum insomnerd alias insom mania…hehehe. “ aku memakluminya.
“ jadi ada apa dong? Soalnya kamu keliatannya serius sekali… “ Tanyaku untuk yang ketiga kalinya, dan semuanya hanya ia lewatkan saja, mungkin pertanyaanku sesusah pertanyaan ujiannya, mungkin…
“ ngga ada apa-apa kok, Cuma pengen ngajak kamu aja, kita pergi nonton yuk? bertiga sama Nadia. “ jawabnya tanpa ada perasaan bersalah karena telah membuatku sedikit panik.
Gimana ya…sebenarnya aku tak bisa menolaknya apalagi dia menyebutkan nama Nadia, seakan ia telah merekomendasikan nama itu untuk mengajakku…
“ oke. Ayo kita berangkat. Nadia udah nunggu disana… “ ia menarik tanganku setelah membayar makanan, padahal aku belum meng-iya-kannya.
“ eh, kok maksa sih ngajak nontonnya?! Aku kan belom bilang ok “ aku tak begitu heran, ini yang kesekian kalinya ia tiba-tiba menarik tanganku tanpa perlu mendengarkan persetujuanku.
“ oke deh, mau diapain lagi… tapi kamu udah minta ijin belum sama Decky? “ tanyaku mempertegas salah satu batasan dalam suatu hubungan kasih, yaitu meminta ijin.
“ tenang aja…udah kok, waktu dia nelfon aku tadi malam, malah dia menyuruh memaksa kamu untuk ikut nonton bareng aku dan Nadia! “ jawabnya lega seakan telah memenuhi salah satu kewajibannya sebagai seorang kekasih yang benar.
“ oh iya, besok dia udah balik lagi kesini…bareng Rama. “ timpalnya lagi.
“ ya udah, emang kita mau nonton film apa? “
“ film Virgin…”
…
“ kemarin jadi loe nonton bareng Renna dan Nadia? “ Tanya Decky seakan memastikan bahwa Renna tidak berbohong soal ijinnya untuk pergi nonton.
“ jadilah… katanya loe yang nyuruh Renna untuk maksa gue supaya mau pergi nonton? Mau gak mau, tangan gue udah keburu ditarik… “ jawabku biasa saja.
“ ooo…jadi selama ini loe ya selingkuhannya Renna! “
“ waduh, jadi loe baru tau, Deck?! Udah lama lagi, Fathan maen dibelakang loe! “ timpal Rama untuk meramaikan suasana. Rama sebenarnya termasuk yang jarang membahas tentang hubungan kasih seseorang, dia pendiam, berbeda sekali dengan Decky, Padahal mereka sudah lama bersahabat.
“ Gue emang lagi doyan ngerebut cewe temen sendiri, udah lama lagi gue main dibelakang loe! “
“ dasar gila loe ya…hahaha.. “
“ hahaha… “ kami pun tertawa bersama.
Itulah kami, hampir semua obrolan kami akhiri dengan canda, bahkan jika obrolan itu termasuk kategori serius sekalipun, termasuk soal hati, Gila.
“ gimana jalinan cinta kasih loe ama Renna? “ Tanya ku pada Decky.
“ apa, jalinan cinta kasih? Kami kan hanya pacaran. Kami fun-fun aja kok… “
“ dasar loe ya…temen gw tuh sekarang. Serius dikit kek sama yang namanya cinta. Dia sepertinya cinta banget tuh ama loe… “
“ waduh, gw masih males ngomongin cinta, takut sakit, perih men…perih… “ jawabnya seakan hendak menceritakan kembali masa lalunya yang menurutku sepertinya masih sulit untuk ia lupakan, aku maklum.
Begitu sakitnya kah disakiti oleh cinta, hingga meninggalkan jejak yang begitu tertanam dalam, sampai ia sendiri begitu sulit untuk menghapus jejak yang telah merusak taman hatinya, hanya untuk menghias kembali taman hatinya dengan bunga indah yang keharumannya berasal dari surga?
Begitu sakitnya kah dikhianati oleh cinta, hanya karena cinta telah berlabuh di muara hati yang lain?
Kebosanan apa kah yang telah berhasil merayunya, merangkulnya tanpa kenal arti sebuah kesetiaan?
Kesetiaannyalah yang pantas kau panggil dengan nama Cinta.
Kesetiaannyalah yang telah menumbangkan kemunafikkan.
Cintalah yang telah membuatnya terus hidup.
Hanya Cinta yang mampu…
Inikah yang dinamakan insomnia, hujatku, disaat semua sudah tak sanggup menghitung bintang, sedangkan aku disini masih berkutat dengan jari, seakan aku sanggup menentukan jumlahnya. Hebat.
Entah apa yang ada dipikiranku, aku sendiri hingga malam ini masih kesulitan untuk mendefinisikan atau setidaknya paparkanlah rasa yang singgah di rumah pikiran-ku, ia datang pada saat malam telah menunjukkan wujud asli-nya, seakan hal itu sudah menjadi kebiasaannya, aku sendiri tak bisa menghilangkan kebiasaannya itu, tapi setidaknya kurangilah waktu singgahmu, pintaku memohon.
Malam ini ia sudah berdiri disana, di salah satu ruang pikiranku, tempat yang sangat ia suka, mungkin ia merasa nyaman disana, memang aku yang menyiapkan ruangan itu khusus untuknya sejak aku berteman dengannya, aku dikenalkan oleh kekasih sahabatku, kini mantan.
Apa aku harus menikmati kehidupan malam, berlindung pada kerlap-kerlip lampu gemerlap, berdiri lunglai mengikuti irama musik disco di lantai dansa setelah menenggak bergelas-gelas alcohol yang menjungkir balikkan otakku, hanya untuk menghindar dari bayanganmu malam ini, seperti malam-malam yang lalu?
…
“ siapa sih yang nelpon pagi-pagi gini! “ gerutuku sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10, sudah siang rupanya, setelah terdengar dering telfon dirumah kontrakan yang aku tempati dengan teman-temanku, kebetulan mereka masih betah dikampungnya masing-masing, jadi aku lagi sendirian di rumah ini, ya mau gak mau aku yang harus mengangkat telfon itu.
“ sebentar! “ teriakku menjawab deringan telfon yang seakan sudah tak sabar untuk di angkat. Untung aku butuh kamu, kalau tidak, entah apa yang akan kuperbuat padamu…
….
Dengan terburu-buru setelah kuliah diruangan yang berada dilantai 3, aku langsung menuju kantin. Akh..itu dia, menarik nafas lalu menghampirinya.
“ ada apa niy? Sepertinya gawat sekali sampe gak bisa di omongin di telefon segala. “
“ duduk aja dulu disini. ” jawabnya sambil menunjuk kursi yang berada tepat disampingnya. Serius sekali Renna…
Renna adalah seseorang yang belum lama ini mengisi hari-hari sahabatku, Decky. Entah dimana mereka berkenalan hingga menjadi sepasang kekasih karena mereka jelas-jelas berbeda tempat kuliah, bahkan berbeda suku, suku yang satu masih menganut faham yang kolot dengan kata lain menggunakan sistem perjodohan dan tidak boleh ini-itu, sedangkan suku yang satunya sudah mulai ber-teriak kebebasan. Tapi dia tidak begitu peduli, sesuatu yang wajar selaku pendatang, mulai bisa beradaptasi. Kadang aku memanggilnya dengan sebutan Penggombal Sejati, karena dia termasuk yang mudah menaklukkan bahkan meluluhlantakkan wanita, mungkin hanya hati saja yang tersisa, itu pun masih diracuni dengan virus ganas yang berhasil aku identifikasikan dan aku menamainya ‘kenangan indah’. Dia hanya tertawa bila aku berkata seperti itu, tanpa pernah membantah, kadang meng-amin-inya dengan suara lantang. Dalam hal ini, Renna termasuk yang telah terkena radiasi racunnya, wanita yang radiusnya dekat dengan sahabatnya sendiri, aku.
Aku sebenarnya belum begitu lama mengenal Renna, berawal karena Decky-lah ia menjadi dekat denganku… hanya berputar pada satu titik saja, mungkin…
…
“ pasti ada masalah lagi ya dengan Decky? Berbuat apa lagi dia? “ Tanyaku seakan sering terjadi hal-hal yang seperti ini.
“ ngga ada, kenapa sih selalu dikira aku ada masalah dengan Decky? “ jawabnya mengerti yang aku tanyakan.
“ ngga, biasanya gitu… jadi ada apa dong sebenarnya sampe perlu nelfon pagi-pagi buta? “ becanda menanggapi pertanyaannya.
“ apa! Pagi-pagi buta?! Itu udah jam 10 pagi menjelang siang tau! “ teriaknya seakan hanya kami saja di kantin itu, dengan wajah sedikit keheranan.
“ jadi kamu gak tau ya?! Itu kan masih pagi-pagi buta bagi kaum insomnerd alias insom mania…hehehe. “ aku memakluminya.
“ jadi ada apa dong? Soalnya kamu keliatannya serius sekali… “ Tanyaku untuk yang ketiga kalinya, dan semuanya hanya ia lewatkan saja, mungkin pertanyaanku sesusah pertanyaan ujiannya, mungkin…
“ ngga ada apa-apa kok, Cuma pengen ngajak kamu aja, kita pergi nonton yuk? bertiga sama Nadia. “ jawabnya tanpa ada perasaan bersalah karena telah membuatku sedikit panik.
Gimana ya…sebenarnya aku tak bisa menolaknya apalagi dia menyebutkan nama Nadia, seakan ia telah merekomendasikan nama itu untuk mengajakku…
“ oke. Ayo kita berangkat. Nadia udah nunggu disana… “ ia menarik tanganku setelah membayar makanan, padahal aku belum meng-iya-kannya.
“ eh, kok maksa sih ngajak nontonnya?! Aku kan belom bilang ok “ aku tak begitu heran, ini yang kesekian kalinya ia tiba-tiba menarik tanganku tanpa perlu mendengarkan persetujuanku.
“ oke deh, mau diapain lagi… tapi kamu udah minta ijin belum sama Decky? “ tanyaku mempertegas salah satu batasan dalam suatu hubungan kasih, yaitu meminta ijin.
“ tenang aja…udah kok, waktu dia nelfon aku tadi malam, malah dia menyuruh memaksa kamu untuk ikut nonton bareng aku dan Nadia! “ jawabnya lega seakan telah memenuhi salah satu kewajibannya sebagai seorang kekasih yang benar.
“ oh iya, besok dia udah balik lagi kesini…bareng Rama. “ timpalnya lagi.
“ ya udah, emang kita mau nonton film apa? “
“ film Virgin…”
…
“ kemarin jadi loe nonton bareng Renna dan Nadia? “ Tanya Decky seakan memastikan bahwa Renna tidak berbohong soal ijinnya untuk pergi nonton.
“ jadilah… katanya loe yang nyuruh Renna untuk maksa gue supaya mau pergi nonton? Mau gak mau, tangan gue udah keburu ditarik… “ jawabku biasa saja.
“ ooo…jadi selama ini loe ya selingkuhannya Renna! “
“ waduh, jadi loe baru tau, Deck?! Udah lama lagi, Fathan maen dibelakang loe! “ timpal Rama untuk meramaikan suasana. Rama sebenarnya termasuk yang jarang membahas tentang hubungan kasih seseorang, dia pendiam, berbeda sekali dengan Decky, Padahal mereka sudah lama bersahabat.
“ Gue emang lagi doyan ngerebut cewe temen sendiri, udah lama lagi gue main dibelakang loe! “
“ dasar gila loe ya…hahaha.. “
“ hahaha… “ kami pun tertawa bersama.
Itulah kami, hampir semua obrolan kami akhiri dengan canda, bahkan jika obrolan itu termasuk kategori serius sekalipun, termasuk soal hati, Gila.
“ gimana jalinan cinta kasih loe ama Renna? “ Tanya ku pada Decky.
“ apa, jalinan cinta kasih? Kami kan hanya pacaran. Kami fun-fun aja kok… “
“ dasar loe ya…temen gw tuh sekarang. Serius dikit kek sama yang namanya cinta. Dia sepertinya cinta banget tuh ama loe… “
“ waduh, gw masih males ngomongin cinta, takut sakit, perih men…perih… “ jawabnya seakan hendak menceritakan kembali masa lalunya yang menurutku sepertinya masih sulit untuk ia lupakan, aku maklum.
Begitu sakitnya kah disakiti oleh cinta, hingga meninggalkan jejak yang begitu tertanam dalam, sampai ia sendiri begitu sulit untuk menghapus jejak yang telah merusak taman hatinya, hanya untuk menghias kembali taman hatinya dengan bunga indah yang keharumannya berasal dari surga?
Begitu sakitnya kah dikhianati oleh cinta, hanya karena cinta telah berlabuh di muara hati yang lain?
Kebosanan apa kah yang telah berhasil merayunya, merangkulnya tanpa kenal arti sebuah kesetiaan?
Kesetiaannyalah yang pantas kau panggil dengan nama Cinta.
Kesetiaannyalah yang telah menumbangkan kemunafikkan.
Cintalah yang telah membuatnya terus hidup.
Hanya Cinta yang mampu…
Label:
Cerita
Calon Novel, Chapter 1
Embun pagi masih bersembunyi dibalik daun-daun hijau yang begitu indah terlihat. Sangat indah. Seakan aku enggan untuk mengalihkan pandangku walau hanya sedetik. Pagi ini begitu cerah, pujiku.
Kampung halamanku, disini masih bisa kunikmati kicauan burung-burung alam yang seakan bernyanyi mengagumi kesegaran pagi, yang mungkin di kota tak dapat kudengar walau hanya sayup-sayup sekalipun, tapi disini dapat kunikmati semua tanpa perlu membelinya, karena keindahan ini sungguh tak terbeli atau bahkan tak dapat ditukar dengan apa pun. Tidak!
…
“ tok tok tok “ seiring pintu terbuka dengan pelan.
“ sudah bangun than? ” tanya ibuku sembari meletakkan secangkir teh manis, ibuku memang sangat tahu minuman kesukaanku di waktu pagi, walaupun kadang di sore hari pun aku suka meminta untuk dibuatkan.
“ sudah, makasih ma… ” melihatnya sebentar, lalu kembali menikmati pagi dari balik jendela kamarku.
“ cepat mandi sana. ” sembari menutup kembali pintu kamarku, ia pun berlalu tuk kembali berkutat dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, tak adil memang, tapi begitulah adat disini, wanita seakan ditakdirkan hanya untuk mengurus urusan rumah tangga, syukurnya ia tak pernah mengeluh malah aku merasa beliau begitu menikmatinya. Sangat berbeda dengan ibu-ibu di perkotaan yang hanya mengurusi kariernya tanpa pernah sedikitpun melirik pada kodratnya. Aku bangga pada ibuku, walau kadang ia suka juga pergi ke mal atau arisan ibu-ibu. Itu wajar.
“ saatnya mandi… “ bisikku, seperti meminta ijin kepada ‘seseorang’ yang ada dibalik jendela yang telah menarik hatiku.
…
“ pagi semua… “ sembari duduk, lalu tanpa basa-basi menyendok nasi goreng, lapar sekali, semalam perjalanan yang melelahkan, bisikku. Yang lain hanya bisa termangu melihatku, “ lapar atau doyan “ mungkin pikir mereka. Kali ini peng-abai-an yang mengikat kepedulianku!
“ berangkat jam berapa kamu dari sana, kenapa malam sekali sampe sini? “ tanya papa.
“ abis maghrib. Biasa pa, macet. Orang-orang yang tinggal dikota kan perlu juga menengok kampung halamannya untuk melupakan sejenak tekanan yang dihadapi disana. Berat loh pa… “ jawabku sedikit becanda, memecah keseriusan yang biasa ada dalam ke-‘otoriter’-an meja makan.
“ mulai deh sok tau-nya… “ ucap daia, adikku. Semua pun tertawa. Ini yang ku suka dari keluargaku, sungguh menghibur, setidaknya aku dapat melupakan sejenak ‘pergolakan batin’ yang kuhadapi di kota.
“ kakak bawa oleh-oleh gak buat aku? “ harap adikku dengan kecentilannya yang menggelikan itu, tapi justru itu yang kadang aku rindukan darinya.
“ oleh-oleh terus…emang kakak kerja di kota? Kerja kakak kan masih minta uang sama papa dan kadang nodongin mama! “ jawab ku jahil.
“ tenang..tenang.. pasti ada donk oleh-oleh untuk adikku yang centil ini. Ada tuh di tas kakak, baju sama celana kotor kan? Yang bersih ya nyucinya…hahaha.. “ sambil mencubit pipinya yang sudah dilapisi bedak lembut, biar kelihatan cantik pikirnya. Tanpa itu adikku sudah cantik kok, bisikku dalam hati.
“ adeeh lutuna kakakku yang satu ini……wee.. “ masih dengan tingkah centilnya.
Kami semua hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.
“ kok pada ketawa sih…emangnya aku badut! “ sambil membawa piring ke belakang.
Hahahahaha… semua kembali tertawa.
…
“ tumben, hari minggu kamu gak jalan? Biasanya jam seginian udah ga ada dirumah. “ menggoda adikku yang lagi nonton tv, kebiasaan dia klo lagi dirumah. Kadang aku mikir, bagaimana kehidupan dia seandainya jadi anaknya Menteri Pertanian yang sekarang ini, yang dirumahnya meng-‘haram’-kan hasil dari kemajuan teknologi yaitu televisi, aku yakin pak Menteri mampu membeli tv bahkan dengan fasilitas home theatre yang lagi ngetren saat ini, jadi gak perlu ke gedung bioskop segala untuk nonton film Indonesia yang (ini kata pengamat perfilman) sudah bangkit dari tidurnya yang panjang itu. Mungkin motto adikku akan berubah menjadi ‘ tiada hari tanpa hanging out, HIDUP HANGING OUT! ‘ hehehe..
“ males ah kak, bete… “ jawab daia tanpa gairah.
“ males kenapa sih, ga di kasih ijin ya, biasanya juga maksa dengan ancaman keras bakal membom menara kembar WTC?! hihihi… “ menghiburnya. Menghibur atau ngeledek tuh, candaku.
“ apaan sich, bukan itu, itu alasan yang ketujuh belas tau… tadinya sih mau nonton bareng sama temen-temen di bioskop, film Virgin, tapi barusan temenku nelfon, ngebatalin acara nontonnya, biasa… filmnya di cekal! Rese banget! Mending klo mereka udah pada nonton, malah ada yang blom ke bioskop sama sekali, aneh! “ jawabnya lirih dengan mata masih menatap tv yang menayangkan acara gosip kaum selebritis, reporternya masih mengoceh tanpa henti bahkan terkesan hanya dia lah yang benar, seakan urusan perceraian selebritis adalah urusan mereka dan bisa diumumkan pada seluruh penghuni planet bumi. Urusan pribadi adalah juga urusan publik, yang tadinya hanya gosip belaka yang dibuat entah oleh siapa, akan menjadi kenyataan nantinya bagi mereka. Menyedihkan.
“ kok bisa gitu?? “ menunjukkan wajah bingung, pura-pura tak tahu sama sekali, untuk mendengarkan tanggapan dia tentang pen-‘cekal’-an film itu, padahal ini film kedua yang di-‘cekal’ tahun ini, mungkin film yang kemaren itu dia udah sempat menontonnya jadi tidak terlalu membuatnya dongkol, pikirku.
“ biasa lah alasan klasik, menyangkut dogma. “ daia mulai serius menanggapinya.
Ini yang aku tunggu. Tak ada salahnyakan aku dengarkan tanggapannya. Mungkin itu lebih baik baginya, bisikku bersemangat.
“ bagi mereka film itu dapat merusak moral dan akhlak anak remaja, kan bang iwan fals aja pernah bilang; ‘masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri…’ dan lagi yang bikin aku lebih heran mereka bilang kalau film itu tidak sesuai dengan budaya kita yang ke-‘timur’-an, kenapa gak sekalian aja televisi dilarang masuk negara kita?! Coba deh kakak tonton acara televisi sekarang yang penuh eksploitasi-eksploitasi yang mestinya lebih dianggap tidak sesuai dengan budaya kita, yang nantangin hantu lah, yang maling dikejar-kejar pas ketangkep dipukulin massa lah padahal ada polisi disitu tapi mereka diam aja dengan alasan tak bisa berbuat apa-apa, balikin aja tuh pistol! Malahan urusan rumah tangga orang pun dapat kita saksikan hanya dengan menunggu jam tayangnya, dan semua dilihat oleh hampir semua penduduk di negara kita, dari anak kecil, orang tua, bahkan pemuka agama. Sedangkan di bioskop mungkin hanya sebagiannya saja yang menikmatinya. Ini kan aneh… “ ucapnya bersemangat.
“ hal-hal yang ada di film itu kan biar yang nonton aja yang mengartikannya, klo dasar moral dan akhlaknya udah rusak tanpa nonton film itu juga, dia pasti akan berbuat yang ‘rusak’. Dan juga itu kan yang memang sudah terjadi di dalam kehidupan sosial kita, jangan di pungkirilah, justru menurutku dengan melakukan pen-‘cekal’-an itu membuat kita jadi penasaran ingin menontonnya bahkan melakukannya. Klo orang-orang sudah jadi penasaran ingin menontonnya maka para pembajak lah yang sangat di untungkan disini, jadi apa gunanya mereka berkoar-koar dengan jargon ‘ ANTI PEMBAJAKAN ‘ yang sangat agung terdengar itu! Serba salah dan sulit di mengerti memang… “ tambahnya lagi.
Tak ada kelucuan yang ku tangkap dari ucapannya, ia benar-benar lagi serius.
Ia benar-benar telah membuat ku terdiam, bahkan aku tak bisa menyangkalnya, jawaban yang bagus, bisikku lirih.
“ tapi… maksud kamu dari melakukannya itu apa? “ tanyaku agak serius.
“ tenang…tenang kak, kan kujaga Virginitas ku dengan segala daya yang kupunya hingga aku menikah nanti, karena setelah aku menikah, apalah dayaku tuk menahannya… “ jawabnya sambil berlari menuju kamarnya dengan tawa yang seakan telah lepas beban yang ada di pikirannya.
“ dasar centil… “ teriakku mengejeknya.
Tak terasa hari telah sore, sebentar lagi dewi malam akan muncul dengan wajahnya yang seakan sudah bosan utnuk kupandangi, ini yang aku benci…
Kampung halamanku, disini masih bisa kunikmati kicauan burung-burung alam yang seakan bernyanyi mengagumi kesegaran pagi, yang mungkin di kota tak dapat kudengar walau hanya sayup-sayup sekalipun, tapi disini dapat kunikmati semua tanpa perlu membelinya, karena keindahan ini sungguh tak terbeli atau bahkan tak dapat ditukar dengan apa pun. Tidak!
…
“ tok tok tok “ seiring pintu terbuka dengan pelan.
“ sudah bangun than? ” tanya ibuku sembari meletakkan secangkir teh manis, ibuku memang sangat tahu minuman kesukaanku di waktu pagi, walaupun kadang di sore hari pun aku suka meminta untuk dibuatkan.
“ sudah, makasih ma… ” melihatnya sebentar, lalu kembali menikmati pagi dari balik jendela kamarku.
“ cepat mandi sana. ” sembari menutup kembali pintu kamarku, ia pun berlalu tuk kembali berkutat dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, tak adil memang, tapi begitulah adat disini, wanita seakan ditakdirkan hanya untuk mengurus urusan rumah tangga, syukurnya ia tak pernah mengeluh malah aku merasa beliau begitu menikmatinya. Sangat berbeda dengan ibu-ibu di perkotaan yang hanya mengurusi kariernya tanpa pernah sedikitpun melirik pada kodratnya. Aku bangga pada ibuku, walau kadang ia suka juga pergi ke mal atau arisan ibu-ibu. Itu wajar.
“ saatnya mandi… “ bisikku, seperti meminta ijin kepada ‘seseorang’ yang ada dibalik jendela yang telah menarik hatiku.
…
“ pagi semua… “ sembari duduk, lalu tanpa basa-basi menyendok nasi goreng, lapar sekali, semalam perjalanan yang melelahkan, bisikku. Yang lain hanya bisa termangu melihatku, “ lapar atau doyan “ mungkin pikir mereka. Kali ini peng-abai-an yang mengikat kepedulianku!
“ berangkat jam berapa kamu dari sana, kenapa malam sekali sampe sini? “ tanya papa.
“ abis maghrib. Biasa pa, macet. Orang-orang yang tinggal dikota kan perlu juga menengok kampung halamannya untuk melupakan sejenak tekanan yang dihadapi disana. Berat loh pa… “ jawabku sedikit becanda, memecah keseriusan yang biasa ada dalam ke-‘otoriter’-an meja makan.
“ mulai deh sok tau-nya… “ ucap daia, adikku. Semua pun tertawa. Ini yang ku suka dari keluargaku, sungguh menghibur, setidaknya aku dapat melupakan sejenak ‘pergolakan batin’ yang kuhadapi di kota.
“ kakak bawa oleh-oleh gak buat aku? “ harap adikku dengan kecentilannya yang menggelikan itu, tapi justru itu yang kadang aku rindukan darinya.
“ oleh-oleh terus…emang kakak kerja di kota? Kerja kakak kan masih minta uang sama papa dan kadang nodongin mama! “ jawab ku jahil.
“ tenang..tenang.. pasti ada donk oleh-oleh untuk adikku yang centil ini. Ada tuh di tas kakak, baju sama celana kotor kan? Yang bersih ya nyucinya…hahaha.. “ sambil mencubit pipinya yang sudah dilapisi bedak lembut, biar kelihatan cantik pikirnya. Tanpa itu adikku sudah cantik kok, bisikku dalam hati.
“ adeeh lutuna kakakku yang satu ini……wee.. “ masih dengan tingkah centilnya.
Kami semua hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.
“ kok pada ketawa sih…emangnya aku badut! “ sambil membawa piring ke belakang.
Hahahahaha… semua kembali tertawa.
…
“ tumben, hari minggu kamu gak jalan? Biasanya jam seginian udah ga ada dirumah. “ menggoda adikku yang lagi nonton tv, kebiasaan dia klo lagi dirumah. Kadang aku mikir, bagaimana kehidupan dia seandainya jadi anaknya Menteri Pertanian yang sekarang ini, yang dirumahnya meng-‘haram’-kan hasil dari kemajuan teknologi yaitu televisi, aku yakin pak Menteri mampu membeli tv bahkan dengan fasilitas home theatre yang lagi ngetren saat ini, jadi gak perlu ke gedung bioskop segala untuk nonton film Indonesia yang (ini kata pengamat perfilman) sudah bangkit dari tidurnya yang panjang itu. Mungkin motto adikku akan berubah menjadi ‘ tiada hari tanpa hanging out, HIDUP HANGING OUT! ‘ hehehe..
“ males ah kak, bete… “ jawab daia tanpa gairah.
“ males kenapa sih, ga di kasih ijin ya, biasanya juga maksa dengan ancaman keras bakal membom menara kembar WTC?! hihihi… “ menghiburnya. Menghibur atau ngeledek tuh, candaku.
“ apaan sich, bukan itu, itu alasan yang ketujuh belas tau… tadinya sih mau nonton bareng sama temen-temen di bioskop, film Virgin, tapi barusan temenku nelfon, ngebatalin acara nontonnya, biasa… filmnya di cekal! Rese banget! Mending klo mereka udah pada nonton, malah ada yang blom ke bioskop sama sekali, aneh! “ jawabnya lirih dengan mata masih menatap tv yang menayangkan acara gosip kaum selebritis, reporternya masih mengoceh tanpa henti bahkan terkesan hanya dia lah yang benar, seakan urusan perceraian selebritis adalah urusan mereka dan bisa diumumkan pada seluruh penghuni planet bumi. Urusan pribadi adalah juga urusan publik, yang tadinya hanya gosip belaka yang dibuat entah oleh siapa, akan menjadi kenyataan nantinya bagi mereka. Menyedihkan.
“ kok bisa gitu?? “ menunjukkan wajah bingung, pura-pura tak tahu sama sekali, untuk mendengarkan tanggapan dia tentang pen-‘cekal’-an film itu, padahal ini film kedua yang di-‘cekal’ tahun ini, mungkin film yang kemaren itu dia udah sempat menontonnya jadi tidak terlalu membuatnya dongkol, pikirku.
“ biasa lah alasan klasik, menyangkut dogma. “ daia mulai serius menanggapinya.
Ini yang aku tunggu. Tak ada salahnyakan aku dengarkan tanggapannya. Mungkin itu lebih baik baginya, bisikku bersemangat.
“ bagi mereka film itu dapat merusak moral dan akhlak anak remaja, kan bang iwan fals aja pernah bilang; ‘masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri…’ dan lagi yang bikin aku lebih heran mereka bilang kalau film itu tidak sesuai dengan budaya kita yang ke-‘timur’-an, kenapa gak sekalian aja televisi dilarang masuk negara kita?! Coba deh kakak tonton acara televisi sekarang yang penuh eksploitasi-eksploitasi yang mestinya lebih dianggap tidak sesuai dengan budaya kita, yang nantangin hantu lah, yang maling dikejar-kejar pas ketangkep dipukulin massa lah padahal ada polisi disitu tapi mereka diam aja dengan alasan tak bisa berbuat apa-apa, balikin aja tuh pistol! Malahan urusan rumah tangga orang pun dapat kita saksikan hanya dengan menunggu jam tayangnya, dan semua dilihat oleh hampir semua penduduk di negara kita, dari anak kecil, orang tua, bahkan pemuka agama. Sedangkan di bioskop mungkin hanya sebagiannya saja yang menikmatinya. Ini kan aneh… “ ucapnya bersemangat.
“ hal-hal yang ada di film itu kan biar yang nonton aja yang mengartikannya, klo dasar moral dan akhlaknya udah rusak tanpa nonton film itu juga, dia pasti akan berbuat yang ‘rusak’. Dan juga itu kan yang memang sudah terjadi di dalam kehidupan sosial kita, jangan di pungkirilah, justru menurutku dengan melakukan pen-‘cekal’-an itu membuat kita jadi penasaran ingin menontonnya bahkan melakukannya. Klo orang-orang sudah jadi penasaran ingin menontonnya maka para pembajak lah yang sangat di untungkan disini, jadi apa gunanya mereka berkoar-koar dengan jargon ‘ ANTI PEMBAJAKAN ‘ yang sangat agung terdengar itu! Serba salah dan sulit di mengerti memang… “ tambahnya lagi.
Tak ada kelucuan yang ku tangkap dari ucapannya, ia benar-benar lagi serius.
Ia benar-benar telah membuat ku terdiam, bahkan aku tak bisa menyangkalnya, jawaban yang bagus, bisikku lirih.
“ tapi… maksud kamu dari melakukannya itu apa? “ tanyaku agak serius.
“ tenang…tenang kak, kan kujaga Virginitas ku dengan segala daya yang kupunya hingga aku menikah nanti, karena setelah aku menikah, apalah dayaku tuk menahannya… “ jawabnya sambil berlari menuju kamarnya dengan tawa yang seakan telah lepas beban yang ada di pikirannya.
“ dasar centil… “ teriakku mengejeknya.
Tak terasa hari telah sore, sebentar lagi dewi malam akan muncul dengan wajahnya yang seakan sudah bosan utnuk kupandangi, ini yang aku benci…
Label:
Cerita
Ada yang bisa jawab?

Bolehkah aku,
masuk ke dalam hatimu
tuk mewarnai dindingnya
dengan tinta
yang juga di pakai
tuk mewarnai
langit,
laut,
juga matamu?
Label:
Cinta
Kontradiksi

Kecerahan hadir
kala pekat menghilang
Rindu meradang
saat jumpa menggoda
Cinta bercahaya
bila benci digelapkan
Aku tersenyum
ketika kamu bercerita
Label:
Cinta
Apa yg Kamu Tahu?

Apa yang kamu tahu,
ketika cinta benar-benar hadir di hatimu?
Apa yang kamu tahu,
ketika rindu benar-benar hadir di pikiranmu?
Apa yang kamu tahu,
ketika benci benar-benar menjauh darimu?
Apa yang kamu tahu,
tentang aku?
Label:
Cinta

Aku tak tahu pasti,
apa aku sedang jatuh cinta padamu atau tidak
Aku tak tahu pasti,
apa kau juga sedang jatuh cinta padaku ata tidak
tapi yang aku tahu pasti,
pagi ini aku merindukanmu...
apa kau juga?
Label:
Cinta
Monolog
PROLOG
Apa artinya cinta?
Pertanyaan yang aneh, sulit di jawab. Namun kadang masih sering kupikirkan, jawaban apa yang pantas untuknya. Apa aku harus menceritakannya dari awal sedangkan aku tahu akhirnya akan sangat menyakitkan? Ya, sangat menyakitkan bagiku, karena aku harus membuka kembali masa lalu ku yang kini masih kucoba untuk menguburnya dalam-dalam. Ingat, masih kucoba! Dapat aku katakan hampir tak bisa, bahkan kadang ikut membawaku terkubur didalamnya.
Ada apa dengan cinta?
Ingat, aku lelaki, manusia juga, yang kadang menangis karena cinta, kadang pula menangisi cinta. Hingga kini aku pun masih bertanya-tanya tentang cinta, siapa dia? Dimana dia? Apakah dia ada?
Siapa dia??
Ku usap peluh
Karena lelah ku akan pencarian
Sebuah diri
Sebuah hati
Sebuah cinta
Tanpa ujung ku berjalan
Melewati tiap cermin di sampingku
Hari yang panas. Sesuatu yang sudah mulai biasa untuk kota bandung di siang hari, tapi hari ini sangat panas bagiku, entahlah yang jelas aku merasa begitu. Melelahkan! Hari ini jadwal kuliahku cukup padat dimulai dari pukul 09.50 hingga pukul 16.00 wib, sedangkan mood ku sedang tidak bagus, banyak yang aku pikirkan, atau aku saja yang membuatnya makin banyak, tapi itulah aku kadang ku pendam sendiri tanpa mau menceritakannya kepada siapapun termasuk sahabatku sendiri, bila tak perlu, aneh… Pada saat tertentu sering ku sesali mengapa aku begini, namun sering pula aku menikmatinya seakan tak mau terlepas darinya. Kenapa aku begini?? Lebih baik kau tanyakan saja pada masa laluku, yang kadang aku rindukan, kadang pula aku sangat mengutuknya dengan kata-kata yang kasar, namun aku tak benci. Setidaknya masa-masa indah terselip disana walaupun bisa di katakan hanya sedikit tapi tetap aku namakan keindahan yang teramat panjang untuk dilupakan.
Pita…sedang apa ya dia sekarang? Ingin sekali aku mengirim sms kepadanya hanya sekedar menanyakan kabarnya hari ini, tapi ada yang begitu kuat menghalangiku…Rasa sakit! Entah mengapa, aku sendiri heran, mengapa aku begitu mudah diperdaya oleh rasa sakit yang sangat tak beralasan, karena aku bukan siapa-siapanya dia, hanya TEMAN!
Aargh…sepertinya aku memang harus kembali membuka album lama yang telah lama ku simpan dalam lemari hati…hanya untuk mendinginkan hatiku. Semoga aku tidak menangis, cukup bagiku…
Dimana dia?
Siapa dia?
Hingga kembali ku dibuat terdiam
Samar-samar kucoba memastikan
Namun tetap tak ku kenal
Aku heran
Mengapa serasa akrab di pikirku
Respita Fatin, aku mengenalnya tanpa sengaja, ia teman dari kekasih temanku, dan ternyata kami satu kampus, bukan kebetulan yang disengaja. Ia cantik, ini penilaian awalku, kuakui memang, kurasa bukan aku saja yang mengakui itu, teman-temanku juga mengakui itu, ini pengakuan lelaki.
Setelah aku akrab dengannya, ternyata dia juga baik, bisa aku katakan sangat baik, sesuatu yang wajar kan bila aku menyukainya, pasti tidak ada yang menyalahkanku untuk hal itu, ingat aku lelaki… tapi ada yang sangat menghalangiku untuk mengungkapkannya, dia telah menganggapku sebagai sahabatnya, ini sangat berat, aku tak mau mengkhianati itu! Aku mencoba untuk biasa saja, sebagai sahabatnya, soal hati biarlah waktu yang menjawabnya nanti…
Meraba-raba sebuah hati
Hanya damba yang ku dengar
Tanpa ingin memiliki
Entah…
Apa ini kebodohan
Atau hanya pengakuan?
Aku sendiri tak tahu
Yang jelas aku pesakitan
Apakah dia ada?
Harus berapa lama?
Bukan aku memang yang menentukannya
Apa aku salah untuk bertanya?
Tak tentu
Semua samar di balik kenyataan
Apa artinya cinta?
Pertanyaan yang aneh, sulit di jawab. Namun kadang masih sering kupikirkan, jawaban apa yang pantas untuknya. Apa aku harus menceritakannya dari awal sedangkan aku tahu akhirnya akan sangat menyakitkan? Ya, sangat menyakitkan bagiku, karena aku harus membuka kembali masa lalu ku yang kini masih kucoba untuk menguburnya dalam-dalam. Ingat, masih kucoba! Dapat aku katakan hampir tak bisa, bahkan kadang ikut membawaku terkubur didalamnya.
Ada apa dengan cinta?
Ingat, aku lelaki, manusia juga, yang kadang menangis karena cinta, kadang pula menangisi cinta. Hingga kini aku pun masih bertanya-tanya tentang cinta, siapa dia? Dimana dia? Apakah dia ada?
Siapa dia??
Ku usap peluh
Karena lelah ku akan pencarian
Sebuah diri
Sebuah hati
Sebuah cinta
Tanpa ujung ku berjalan
Melewati tiap cermin di sampingku
Hari yang panas. Sesuatu yang sudah mulai biasa untuk kota bandung di siang hari, tapi hari ini sangat panas bagiku, entahlah yang jelas aku merasa begitu. Melelahkan! Hari ini jadwal kuliahku cukup padat dimulai dari pukul 09.50 hingga pukul 16.00 wib, sedangkan mood ku sedang tidak bagus, banyak yang aku pikirkan, atau aku saja yang membuatnya makin banyak, tapi itulah aku kadang ku pendam sendiri tanpa mau menceritakannya kepada siapapun termasuk sahabatku sendiri, bila tak perlu, aneh… Pada saat tertentu sering ku sesali mengapa aku begini, namun sering pula aku menikmatinya seakan tak mau terlepas darinya. Kenapa aku begini?? Lebih baik kau tanyakan saja pada masa laluku, yang kadang aku rindukan, kadang pula aku sangat mengutuknya dengan kata-kata yang kasar, namun aku tak benci. Setidaknya masa-masa indah terselip disana walaupun bisa di katakan hanya sedikit tapi tetap aku namakan keindahan yang teramat panjang untuk dilupakan.
Pita…sedang apa ya dia sekarang? Ingin sekali aku mengirim sms kepadanya hanya sekedar menanyakan kabarnya hari ini, tapi ada yang begitu kuat menghalangiku…Rasa sakit! Entah mengapa, aku sendiri heran, mengapa aku begitu mudah diperdaya oleh rasa sakit yang sangat tak beralasan, karena aku bukan siapa-siapanya dia, hanya TEMAN!
Aargh…sepertinya aku memang harus kembali membuka album lama yang telah lama ku simpan dalam lemari hati…hanya untuk mendinginkan hatiku. Semoga aku tidak menangis, cukup bagiku…
Dimana dia?
Siapa dia?
Hingga kembali ku dibuat terdiam
Samar-samar kucoba memastikan
Namun tetap tak ku kenal
Aku heran
Mengapa serasa akrab di pikirku
Respita Fatin, aku mengenalnya tanpa sengaja, ia teman dari kekasih temanku, dan ternyata kami satu kampus, bukan kebetulan yang disengaja. Ia cantik, ini penilaian awalku, kuakui memang, kurasa bukan aku saja yang mengakui itu, teman-temanku juga mengakui itu, ini pengakuan lelaki.
Setelah aku akrab dengannya, ternyata dia juga baik, bisa aku katakan sangat baik, sesuatu yang wajar kan bila aku menyukainya, pasti tidak ada yang menyalahkanku untuk hal itu, ingat aku lelaki… tapi ada yang sangat menghalangiku untuk mengungkapkannya, dia telah menganggapku sebagai sahabatnya, ini sangat berat, aku tak mau mengkhianati itu! Aku mencoba untuk biasa saja, sebagai sahabatnya, soal hati biarlah waktu yang menjawabnya nanti…
Meraba-raba sebuah hati
Hanya damba yang ku dengar
Tanpa ingin memiliki
Entah…
Apa ini kebodohan
Atau hanya pengakuan?
Aku sendiri tak tahu
Yang jelas aku pesakitan
Apakah dia ada?
Harus berapa lama?
Bukan aku memang yang menentukannya
Apa aku salah untuk bertanya?
Tak tentu
Semua samar di balik kenyataan
Label:
Cerita
Mencari Metode Melupakan
Secara fisik,tak ada halangan
aku tetap tegak
tidak jiwaku
Ku baca segala buku metode
metode melupakanmu
semakin banyak yang ku baca,
semakin besar konflik yang kurasakan
Jujur,
aku terus berusaha
membujuk diriku tuk melupakan niatku
niatku tuk melupakanmu
Label:
Cinta
Langganan:
Postingan (Atom)
