Calon Novel, Chapter 1

Embun pagi masih bersembunyi dibalik daun-daun hijau yang begitu indah terlihat. Sangat indah. Seakan aku enggan untuk mengalihkan pandangku walau hanya sedetik. Pagi ini begitu cerah, pujiku.
Kampung halamanku, disini masih bisa kunikmati kicauan burung-burung alam yang seakan bernyanyi mengagumi kesegaran pagi, yang mungkin di kota tak dapat kudengar walau hanya sayup-sayup sekalipun, tapi disini dapat kunikmati semua tanpa perlu membelinya, karena keindahan ini sungguh tak terbeli atau bahkan tak dapat ditukar dengan apa pun. Tidak!



“ tok tok tok “ seiring pintu terbuka dengan pelan.
“ sudah bangun than? ” tanya ibuku sembari meletakkan secangkir teh manis, ibuku memang sangat tahu minuman kesukaanku di waktu pagi, walaupun kadang di sore hari pun aku suka meminta untuk dibuatkan.
“ sudah, makasih ma… ” melihatnya sebentar, lalu kembali menikmati pagi dari balik jendela kamarku.
“ cepat mandi sana. ” sembari menutup kembali pintu kamarku, ia pun berlalu tuk kembali berkutat dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, tak adil memang, tapi begitulah adat disini, wanita seakan ditakdirkan hanya untuk mengurus urusan rumah tangga, syukurnya ia tak pernah mengeluh malah aku merasa beliau begitu menikmatinya. Sangat berbeda dengan ibu-ibu di perkotaan yang hanya mengurusi kariernya tanpa pernah sedikitpun melirik pada kodratnya. Aku bangga pada ibuku, walau kadang ia suka juga pergi ke mal atau arisan ibu-ibu. Itu wajar.

“ saatnya mandi… “ bisikku, seperti meminta ijin kepada ‘seseorang’ yang ada dibalik jendela yang telah menarik hatiku.



“ pagi semua… “ sembari duduk, lalu tanpa basa-basi menyendok nasi goreng, lapar sekali, semalam perjalanan yang melelahkan, bisikku. Yang lain hanya bisa termangu melihatku, “ lapar atau doyan “ mungkin pikir mereka. Kali ini peng-abai-an yang mengikat kepedulianku!
“ berangkat jam berapa kamu dari sana, kenapa malam sekali sampe sini? “ tanya papa.
“ abis maghrib. Biasa pa, macet. Orang-orang yang tinggal dikota kan perlu juga menengok kampung halamannya untuk melupakan sejenak tekanan yang dihadapi disana. Berat loh pa… “ jawabku sedikit becanda, memecah keseriusan yang biasa ada dalam ke-‘otoriter’-an meja makan.
“ mulai deh sok tau-nya… “ ucap daia, adikku. Semua pun tertawa. Ini yang ku suka dari keluargaku, sungguh menghibur, setidaknya aku dapat melupakan sejenak ‘pergolakan batin’ yang kuhadapi di kota.
“ kakak bawa oleh-oleh gak buat aku? “ harap adikku dengan kecentilannya yang menggelikan itu, tapi justru itu yang kadang aku rindukan darinya.
“ oleh-oleh terus…emang kakak kerja di kota? Kerja kakak kan masih minta uang sama papa dan kadang nodongin mama! “ jawab ku jahil.
“ tenang..tenang.. pasti ada donk oleh-oleh untuk adikku yang centil ini. Ada tuh di tas kakak, baju sama celana kotor kan? Yang bersih ya nyucinya…hahaha.. “ sambil mencubit pipinya yang sudah dilapisi bedak lembut, biar kelihatan cantik pikirnya. Tanpa itu adikku sudah cantik kok, bisikku dalam hati.
“ adeeh lutuna kakakku yang satu ini……wee.. “ masih dengan tingkah centilnya.
Kami semua hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.
“ kok pada ketawa sih…emangnya aku badut! “ sambil membawa piring ke belakang.
Hahahahaha… semua kembali tertawa.



“ tumben, hari minggu kamu gak jalan? Biasanya jam seginian udah ga ada dirumah. “ menggoda adikku yang lagi nonton tv, kebiasaan dia klo lagi dirumah. Kadang aku mikir, bagaimana kehidupan dia seandainya jadi anaknya Menteri Pertanian yang sekarang ini, yang dirumahnya meng-‘haram’-kan hasil dari kemajuan teknologi yaitu televisi, aku yakin pak Menteri mampu membeli tv bahkan dengan fasilitas home theatre yang lagi ngetren saat ini, jadi gak perlu ke gedung bioskop segala untuk nonton film Indonesia yang (ini kata pengamat perfilman) sudah bangkit dari tidurnya yang panjang itu. Mungkin motto adikku akan berubah menjadi ‘ tiada hari tanpa hanging out, HIDUP HANGING OUT! ‘ hehehe..
“ males ah kak, bete… “ jawab daia tanpa gairah.
“ males kenapa sih, ga di kasih ijin ya, biasanya juga maksa dengan ancaman keras bakal membom menara kembar WTC?! hihihi… “ menghiburnya. Menghibur atau ngeledek tuh, candaku.
“ apaan sich, bukan itu, itu alasan yang ketujuh belas tau… tadinya sih mau nonton bareng sama temen-temen di bioskop, film Virgin, tapi barusan temenku nelfon, ngebatalin acara nontonnya, biasa… filmnya di cekal! Rese banget! Mending klo mereka udah pada nonton, malah ada yang blom ke bioskop sama sekali, aneh! “ jawabnya lirih dengan mata masih menatap tv yang menayangkan acara gosip kaum selebritis, reporternya masih mengoceh tanpa henti bahkan terkesan hanya dia lah yang benar, seakan urusan perceraian selebritis adalah urusan mereka dan bisa diumumkan pada seluruh penghuni planet bumi. Urusan pribadi adalah juga urusan publik, yang tadinya hanya gosip belaka yang dibuat entah oleh siapa, akan menjadi kenyataan nantinya bagi mereka. Menyedihkan.
“ kok bisa gitu?? “ menunjukkan wajah bingung, pura-pura tak tahu sama sekali, untuk mendengarkan tanggapan dia tentang pen-‘cekal’-an film itu, padahal ini film kedua yang di-‘cekal’ tahun ini, mungkin film yang kemaren itu dia udah sempat menontonnya jadi tidak terlalu membuatnya dongkol, pikirku.
“ biasa lah alasan klasik, menyangkut dogma. “ daia mulai serius menanggapinya.
Ini yang aku tunggu. Tak ada salahnyakan aku dengarkan tanggapannya. Mungkin itu lebih baik baginya, bisikku bersemangat.
“ bagi mereka film itu dapat merusak moral dan akhlak anak remaja, kan bang iwan fals aja pernah bilang; ‘masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri…’ dan lagi yang bikin aku lebih heran mereka bilang kalau film itu tidak sesuai dengan budaya kita yang ke-‘timur’-an, kenapa gak sekalian aja televisi dilarang masuk negara kita?! Coba deh kakak tonton acara televisi sekarang yang penuh eksploitasi-eksploitasi yang mestinya lebih dianggap tidak sesuai dengan budaya kita, yang nantangin hantu lah, yang maling dikejar-kejar pas ketangkep dipukulin massa lah padahal ada polisi disitu tapi mereka diam aja dengan alasan tak bisa berbuat apa-apa, balikin aja tuh pistol! Malahan urusan rumah tangga orang pun dapat kita saksikan hanya dengan menunggu jam tayangnya, dan semua dilihat oleh hampir semua penduduk di negara kita, dari anak kecil, orang tua, bahkan pemuka agama. Sedangkan di bioskop mungkin hanya sebagiannya saja yang menikmatinya. Ini kan aneh… “ ucapnya bersemangat.
“ hal-hal yang ada di film itu kan biar yang nonton aja yang mengartikannya, klo dasar moral dan akhlaknya udah rusak tanpa nonton film itu juga, dia pasti akan berbuat yang ‘rusak’. Dan juga itu kan yang memang sudah terjadi di dalam kehidupan sosial kita, jangan di pungkirilah, justru menurutku dengan melakukan pen-‘cekal’-an itu membuat kita jadi penasaran ingin menontonnya bahkan melakukannya. Klo orang-orang sudah jadi penasaran ingin menontonnya maka para pembajak lah yang sangat di untungkan disini, jadi apa gunanya mereka berkoar-koar dengan jargon ‘ ANTI PEMBAJAKAN ‘ yang sangat agung terdengar itu! Serba salah dan sulit di mengerti memang… “ tambahnya lagi.
Tak ada kelucuan yang ku tangkap dari ucapannya, ia benar-benar lagi serius.
Ia benar-benar telah membuat ku terdiam, bahkan aku tak bisa menyangkalnya, jawaban yang bagus, bisikku lirih.

“ tapi… maksud kamu dari melakukannya itu apa? “ tanyaku agak serius.
“ tenang…tenang kak, kan kujaga Virginitas ku dengan segala daya yang kupunya hingga aku menikah nanti, karena setelah aku menikah, apalah dayaku tuk menahannya… “ jawabnya sambil berlari menuju kamarnya dengan tawa yang seakan telah lepas beban yang ada di pikirannya.
“ dasar centil… “ teriakku mengejeknya.

Tak terasa hari telah sore, sebentar lagi dewi malam akan muncul dengan wajahnya yang seakan sudah bosan utnuk kupandangi, ini yang aku benci…

0 komentar:

Posting Komentar