Menahun kutunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini kuharap kudimengerti
Walau sekali saja pelukku
Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu raa sakitku
Tiada lagi alas an
Inilah kejujuran pedih adanya
Namun ini jawabnya
Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus kuberdusta
Karena kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera
Sadari dirikupun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama
Berdua namun semu semata
Tiada yang terobati, didalam peluk ini
Tapi rasakan semua,
Sebelum kau kulepas selamanya
Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian, bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama
by. Dewi Lestari
Trying to HATE U!
Kala hatimu tak mencintaiku
Kala hatimu tak merinduku
Apa masih perlu ku memikirkanmu?
...
Saat jiwamu tak membutuhkanku
Saat jiwamu tak mendambaku
Apa masih perlu ku menunggumu?
...
Ketika tubuhmu tak butuh kehangatanku
Ketika tubuhmu tak butuh kehadiranku
Apa masih perlu ku memimpikanmu?
...
Melupakanmu,
bukankah itu yang kau inginkan?
...
kan kucoba,
tuk membencimu...!
Kala hatimu tak merinduku
Apa masih perlu ku memikirkanmu?
...
Saat jiwamu tak membutuhkanku
Saat jiwamu tak mendambaku
Apa masih perlu ku menunggumu?
...
Ketika tubuhmu tak butuh kehangatanku
Ketika tubuhmu tak butuh kehadiranku
Apa masih perlu ku memimpikanmu?
...
Melupakanmu,
bukankah itu yang kau inginkan?
...
kan kucoba,
tuk membencimu...!
Label:
Cinta
unEasy...
Membencimu,
tak semudah mencintaimu
Jiwa ini seakan enggan melepasmu
Hati ini seakan enggan melupakanmu
Memori ini seakan enggan menghapusmu
...
Membencimu,
tak semudah mencintaimu
Mata ini seakan enggan tuk tidak menatapmu
Mulut ini seakan enggan tuk tidak menyapamu
Tangan ini seakan enggan tuk tidak membelaimu
...
Membencimu,
sungguh,
tak semudah mencintaimu
Diri ini enggan tuk menjauh darimu...!
tak semudah mencintaimu
Jiwa ini seakan enggan melepasmu
Hati ini seakan enggan melupakanmu
Memori ini seakan enggan menghapusmu
...
Membencimu,
tak semudah mencintaimu
Mata ini seakan enggan tuk tidak menatapmu
Mulut ini seakan enggan tuk tidak menyapamu
Tangan ini seakan enggan tuk tidak membelaimu
...
Membencimu,
sungguh,
tak semudah mencintaimu
Diri ini enggan tuk menjauh darimu...!
Label:
Cinta
Memandang Putusnya suatu Hubungan...
"...Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada."
-Dee-
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada."
-Dee-
Label:
Celoteh
Langganan:
Postingan (Atom)
