Aku Tak Sedang Menghujat!

Apa yang harus aku lakukan?
Saat ini aku dihadapkan pada situasi
Dimana ternyata aku juga termasuk lelaki cengeng!
Aku hanya bisa menangis,
Saat kurasa hidup begitu sinis

Aku tak sedang menghujat

Berikan aku kepasrahan,
Dan biarkan aku menangis,
Meski itu pantang
Biarkan aku menangis,
Dan merasakan kenikmatannya

Aku tak sedang menghujat

Ini caraMu,
Agar aku selalu bermunajat
Akulah manusia lemah
Yang hanya bisa menangis
Ikhlas ku harap dariMu…

Terekat Rindu

Terikat dalam tarekat rindu
Terlalu kuat saat menjerat
Terjerat
Terikat
Seperti rakaat dalam sholat,
Tak ada guna bila tak ada
Bumi lebih baik hancur,
Bila tak ada air
Apalah arti rindu,
Bila tak ada perjumpaan
Aku tanpamu,
Takkan ada tulisan ini.

Kamu Banget!!!

Pandang bulan deh,

kok ga seindah senyum kamu ya?

Rasakan hembusan angin deh,

kok ga sesejuk tatapan kamu ya?

Lihat kerlip bintang deh,

percayalah, mata kamu lebih bercahaya!

Mom (2)

……………………………………………………………
“..Nak, ibu pergi hanya sebentar. Ibu akan kembali hanya karena kamu. Kamu jangan bersedih. Bila kamu bersedih, sungguh kedua kaki ini teramat berat tuk pergi. Tersenyum dan berdoalah untuk ibu. Percayalah, ibu hanya pergi sesaat dan pasti kembali untukmu. “
“..Ibu, aku tidak bersedih. Senyum ini untukmu. Aku hanya takut bila rindu kepadamu meradang. Ibu telah memenuhi mata ini dengan senyum indah. Karena itu, aku belum tahu, apa aku bisa walau sesaat bila tak melihat senyum ibu. Aku hanya ingin melihat senyummu, tanpa sedikitpun berpisah denganmu. “
“..Jangan berkata seperti itu, nak. Senyum ibu akan selalu hadir, dalam pikiranmu, dalam mimpimu. Ibu pergi hanya sebentar dan itu hanya untukmu. Agar kamu selalu tersenyum, tanpa beban. Restuilah kepergian ibu dengan doa dan senyummu. “
“..Ibu, walau aku bersedih, anakmu ini akan selalu tersenyum merestuimu. Gapailah apa yang ibu inginkan. Karena bila aku besar nanti, aku tidak akan pernah membiarkan ibu meninggalkan rumah ini lagi. Cahaya wajah ibu lah yang menerangi rumah ini. Pergilah, ibu. Tapi ibu harus berjanji tuk kembali dengan senyum terindah yang membuatku lupa kalau ibu pernah pergi meninggalkanku sesaat. “
“..Baiklah,nak… peluk ibumu ini dengan jari-jari mungilmu. “
“..Ibu, jangan mengkhawatirkanku. Aku sangat bahagia menjadi anakmu. “
……………………………………………………………………

Lelaki kecil dan Bulan

Lelaki kecil
Jari jemari mungil
Selimut lembut memeluknya
Berbisik pelan,
Dari bibir mungilnya,
“ ..ma..ma..mama.. “

Tanpa sengaja bulan mendengarnya,
“ mengapa kau gelisah, nak? “

Lelaki kecil hanya berucap lembut,
“…aku rindu mama…”

Dengan tersenyum, sang bulan berbisik,
“ tidurlah, nak.. berbahagialah.. karena ibumu sedang berdoa untukmu… “

Mom!

Ketika sebagian mata tengah menerawang dalam mimpi, seorang ibu muda bersimpuh dalam hening. Khusuk, dan semakin tenggelam dalam curhatannya dengan Tuhan.

“ Tuhan.. Apa yang kau titipkan kepadaku kini sudah berjalan, berlari, bahkan tertawa dengan riang, tanpa beban. Sedikit merepotkan memang kenakalannya, tapi aku menikmatinya kok, Tuhan. “
“ Dua malam yang lalu, dia bertanya kepadaku, Ma, Tuhan kok jahat? Kemarin aku berdoa, meminta mainan robot. Sampai sekarang belum juga dikabulkan! “
“ Aku terheran-heran lho, Tuhan. Lalu aku menjawab begini, Oo..mungkin Tuhan belum sempat menyuruh mama tuk ke toko mainan, nak. Kamu kan tahu, Tuhan pun menerima doa yang sama dari jutaan anak di seluruh dunia. Tapi yakinlah, Tuhan pun menspesialkan dirimu. “
“ Begitulah aku menerangkannya kepada anakku. Aku tidak salah kan, Tuhan? Kalaupun salah sedikit, maklumilah. Aku kan manusia, dan aku tidk begitu sempurna. Tapi kehadiran titipanMu itu, membuatku menjadi manusia yang sempurna. Semoga aku memang ibu yang sempurna di hadapanMu.. “
“ Ooh Tuhan.. Kau berhutang budi padaku..hehe.. Tidak!
Justru akulah yang sangat sangat berhutang budi padaMu. Kau telah menitipkan kepadaku seorang anak laki-laki yang begitu mengerti keadaanku sebagai orang tua tunggal. Dia sangat menyayangiku, aku tahu itu, tapi aku minta kepadaMu, buatlah dia lebih menyayangiMu, jangan biarkan dia melakukan kesalahan yang mengharuskannya memohon maaf di kakiku, apalagi membuat Kau marah kepadanya. Aku tidak meminta kepadamu, agar menjadikannya anak yang sholeh, tapi jadikanlah ia lebih mencintaiMu, mencintai agamaMu, mencintaiku, mencintai orang-orang yang mencintainya, dan berikanlah dia rasa cinta dan rasa ikhlasMu. “
“ Tuhan.. Dia terbangun. Aku mendengar dia memanggilku. Aku tahu dia merindukan pelukanku, meski belum bisa ia ungkapkan. “
“ Aku permisi dulu ya, Tuhan.. Malam ini aku tidak mengeluh maupun menangis ketika curhat kepadaMu. Aku tersenyum dan special untukMu. Besok malam, insyaallah aku kan curhat kembali kepadamu. Assalamualaikum, Tuhan... “
“ Oiya, Tuhan.. Bangunkan aku nanti subuh, aku akan mengajak dia juga tuk berdoa kepadaMu. “

Aku malu, Bulan...

Aku malu padamu, bulan..

Aku tlah menuduhmu,

hanya sebagai penebar teror

bagi jiwa-jiwa yang sepi.

Kau hanya menemani jiwa-jiwa pemimpi.

...

Kini aku sadar,

sebenarnya kau sahabat bagi jiwa,

yang bersimpuh dalam doa

dengan hati yang suci,

lalu dipancarkan disaat pagi menghampiri.

Caraku

Seekor ayam jantan berkokok di pagi hari

Sang betina kemudian bertanya,

" Setiap pagi kau selalu begitu, jantanku. Kenapa? "

Si jantan menjawab.

" Itu caraku agar kau selalu tersenyum ketika pagi menjelang... "

Senyum dari Seberang

Sebut saja Dimi. Aku lebih senang memanggilnya dengan nama itu. Seorang wanita perantau internasional (TKW). Banyak yang melatarbelakangi untuknya bekerja di negeri orang, tapi aku belum bias membahas itu untuk saat ini. Selain karena baru sesaat aku mengenalnya, juga yang baru aku tahu, mungkin, dia bekerja sampai harus keluar negeri, hanya untuk melihat anaknya tersenyum. Tersenyum tanpa beban dan tanpa perlu tahu betapa indahnya hidup dalam bentuk yang kasar.
Mungkin kita sering mendengar, bila bekerja menjadi TKI/TKW itu menyenangkan, mendapatkan penghasilan yang lebih baik, dapat dengan mudah menguasai bahasa asing, bahkan ada yang mendapatkan jodoh orang asing. Tapi kita pun sering melihat berita-berita di televisi, banyak TKI (lebih banyak TKW) yang mendapat siksaan, dituduh berbuat criminal, dihukum, bahkan ada yang hanya namanya saja yang kembali ke tanah air.
Aku yakin, bukan hal-hal indah atau buruk yang mereka mau. Mereka dipaksa oleh keadaan. Keadaan yang mengharuskan mereka menjadi pekerja di negeri orang. Atau, apakah itu wujud protes mereka terhadap keadaan ??
………………………………………………………………
“ Apa kau bias membuat anakku tersenyum? Atau apa orang lain bias membuat anakku tersenyum? Atau bahkan, apakah negaraku bias membuat anakku tersenyum??? “ tanyanya lirih.
………………………………………………………………
“ Tidak! Justru kau berhasil membuatku menangis…malu..! “ aku tertunduk.
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa menikmati devisa yang di dapat dari pekerjaanmu.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa menikmati cerita-cerita penderitaanmu dari layar televisi, dengan cemilan-cemilan yang menemani.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa memintamu tuk segera pulang, tanpa bisa memberikan kehidupan yang layak setelahnya.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa melihatmu tersenyum, tanpa tahu betapa keras pekerjaan yang kau lakukan sebelum tersenyum.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya tahu kau sebagai TKW, hanya itu.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu tak tahu betapa rindunya kau kepada anakmu, betapa cintanya kau kepada negaramu.. “
……………………………………………………………..
Kemarin aku melihat kau tersenyum melalui webcam. Aku berterima kasih kepada teknologi untuk itu. Setidaknya aku tahu, kau mendapatkan hari yang bersahabat di seberang sana. “ ujarku dalam hati.
………………………………………………………………

Seorang wanita muda,
Berjalan menuju gerbong kereta
Seru laju kereta begitu keras terdengar

Kemudian,
Terminal Bandar udara telah menantinya
Dia hanya diam
Semuanya telah dipersiapkan
Mungkin hatinya yang dia tinggal
Pesawat kan membawanya terbang
Menuju negeri yang baru akan dia pijak

Dari balik jendela pesawat, dia berbisik 
“ Mama pasti kembali, nak..! “
Senyum lirih terlihat selintas.

Senyum!

“ Apa kau pernah melihat seorang wanita memberikan senyum terindahnya hanya untuk kau? “ tanyaku pada seorang teman.“ mmm…sering..sering sekali. Entah berapa kali dalam sehari. Senyuman dari ibuku! “ ucapnya dengan wajah yang sangat bahagia.“ Bukan! Bukan itu yang aku maksud. Bukan senyum dari nenekmu, adik atau kakak perempuanmu, atau senyum dari ibumu. Aku pun tahu senyum seorang ibu tetap yang terindah di dunia ini, bahkan di dalam mimpi sekalipun, dan aku tak bisa berkomentar banyak tentang senyum seorang ibu, senyumnya melebihi cinta… Senyum yang aku maksud tadi adalah senyum yang datangnya dari seorang wanita yang baru kau kenal dan karena senyum indahnya itu, kau merasa wanita tersebut telah lama hadir di kehidupanmu. Apa kau pernah di berikan senyum seperti itu? “ aku memperjelas.“ Sepertinya belum?! Aku merasa orang lain memberikan senyumnya hanya untuk memenuhi etika dalam bersosial, selebihnya kadang aku merasa senyum-senyum itu hanya dibuat-buat, dan akupun menanggapinya juga seperti itu. Aku tahu, perasaan seperti itu salah. Tapi entahlah..mungkin akupun memberikan senyum dengan tujuan seperti itu juga. “ raut wajahnya sedikit berubah.Kau tak salah, kawan. Justru kau telah jujur di balik kepura-puraanmu..ujarku dalam hati.“ Apa kau pernah mendapatkan senyum terindah itu?? “ dia pun bertanya.Pertanyaan yang aku nanti pun datang.“ Pernah. Aku tak tahu, tapi aku merasa senyum itu ditujukan hanya untukku. Indah..indah sekali, kawan! “ sepertinya wajahku memerah.“ Kenapa kau merasa senyum itu hanya untukmu?? “ kembali bertanya, dengan menyelidik.“…mmm…ketika dia tersenyum, mataku berhenti berkedip entah berapa lama. “ jawabku.“ Hanya itu?? “ tanyanya lagi.“ Jelas tidak! “ tegasku.“ Aku merasa nadiku berdenyut dengan merdu, seakan mengikuti irama detak hati. Seluruh tubuhku berdendang dengan sangat..sangat bahagia! Pada saat itu, aku tahu, seluruh organ-organ tubuhku tak mampu menyembunyikan perasaan bahagia itu di hadapannya. “ terangku.“ Aku tahu, kawan. Bukan sebentar aku mengenal kau. Aku turut bahagia untuk itu. “ ucapnya dengan nada senang.“ Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? “ ia bertanya.“ Entahlah… Aku sangat bahagia dengan senyumnya itu. Aku tahu, aku lelaki, pasti berharap untuk memiliki dirinya untuk mengisi hari-hariku, tapi untuk saat ini biarkan senyumnya dulu yang membuat bahagia hari-hariku. “ ucapku.“ Aku takut, kawan…sangat takut! “ tambahku.“ Apa yang kau takutkan?? “ ia bertanya dengan nada bingung.“ Aku takut bila aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, dia tidak lagi memberikan senyum terindahnya untukku. Kau pasti mengerti dengan apa yang aku maksud. “ jawabku.“ Aku mengerti, kawan. Kau takut kalu ternyata dia tersenyum seperti itu bukan hanya untukmu saja, tapi juga ke yang lainnya dalam hal hanya untuk memenuhi etika bersosial. Aku mengerti, kawan. Saat ini, nikmati saja senyum terindahnya itu. Selebihnya biarkan perasaanmu yang berperan. Dan percayalah, hatimu pasti kan memberikan pandangan yang terbaik tentang perasaanmu. “ tuturnya dengan bijak.“ Terima kasih, kawan. “ ucapku bangga.