Senyum dari Seberang

Sebut saja Dimi. Aku lebih senang memanggilnya dengan nama itu. Seorang wanita perantau internasional (TKW). Banyak yang melatarbelakangi untuknya bekerja di negeri orang, tapi aku belum bias membahas itu untuk saat ini. Selain karena baru sesaat aku mengenalnya, juga yang baru aku tahu, mungkin, dia bekerja sampai harus keluar negeri, hanya untuk melihat anaknya tersenyum. Tersenyum tanpa beban dan tanpa perlu tahu betapa indahnya hidup dalam bentuk yang kasar.
Mungkin kita sering mendengar, bila bekerja menjadi TKI/TKW itu menyenangkan, mendapatkan penghasilan yang lebih baik, dapat dengan mudah menguasai bahasa asing, bahkan ada yang mendapatkan jodoh orang asing. Tapi kita pun sering melihat berita-berita di televisi, banyak TKI (lebih banyak TKW) yang mendapat siksaan, dituduh berbuat criminal, dihukum, bahkan ada yang hanya namanya saja yang kembali ke tanah air.
Aku yakin, bukan hal-hal indah atau buruk yang mereka mau. Mereka dipaksa oleh keadaan. Keadaan yang mengharuskan mereka menjadi pekerja di negeri orang. Atau, apakah itu wujud protes mereka terhadap keadaan ??
………………………………………………………………
“ Apa kau bias membuat anakku tersenyum? Atau apa orang lain bias membuat anakku tersenyum? Atau bahkan, apakah negaraku bias membuat anakku tersenyum??? “ tanyanya lirih.
………………………………………………………………
“ Tidak! Justru kau berhasil membuatku menangis…malu..! “ aku tertunduk.
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa menikmati devisa yang di dapat dari pekerjaanmu.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa menikmati cerita-cerita penderitaanmu dari layar televisi, dengan cemilan-cemilan yang menemani.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa memintamu tuk segera pulang, tanpa bisa memberikan kehidupan yang layak setelahnya.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya bisa melihatmu tersenyum, tanpa tahu betapa keras pekerjaan yang kau lakukan sebelum tersenyum.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu hanya tahu kau sebagai TKW, hanya itu.. “
“ Aku, orang lain, bahkan negaramu tak tahu betapa rindunya kau kepada anakmu, betapa cintanya kau kepada negaramu.. “
……………………………………………………………..
Kemarin aku melihat kau tersenyum melalui webcam. Aku berterima kasih kepada teknologi untuk itu. Setidaknya aku tahu, kau mendapatkan hari yang bersahabat di seberang sana. “ ujarku dalam hati.
………………………………………………………………

Seorang wanita muda,
Berjalan menuju gerbong kereta
Seru laju kereta begitu keras terdengar

Kemudian,
Terminal Bandar udara telah menantinya
Dia hanya diam
Semuanya telah dipersiapkan
Mungkin hatinya yang dia tinggal
Pesawat kan membawanya terbang
Menuju negeri yang baru akan dia pijak

Dari balik jendela pesawat, dia berbisik 
“ Mama pasti kembali, nak..! “
Senyum lirih terlihat selintas.

0 komentar:

Posting Komentar