Senyum!
“ Apa kau pernah melihat seorang wanita memberikan senyum terindahnya hanya untuk kau? “ tanyaku pada seorang teman.“ mmm…sering..sering sekali. Entah berapa kali dalam sehari. Senyuman dari ibuku! “ ucapnya dengan wajah yang sangat bahagia.“ Bukan! Bukan itu yang aku maksud. Bukan senyum dari nenekmu, adik atau kakak perempuanmu, atau senyum dari ibumu. Aku pun tahu senyum seorang ibu tetap yang terindah di dunia ini, bahkan di dalam mimpi sekalipun, dan aku tak bisa berkomentar banyak tentang senyum seorang ibu, senyumnya melebihi cinta… Senyum yang aku maksud tadi adalah senyum yang datangnya dari seorang wanita yang baru kau kenal dan karena senyum indahnya itu, kau merasa wanita tersebut telah lama hadir di kehidupanmu. Apa kau pernah di berikan senyum seperti itu? “ aku memperjelas.“ Sepertinya belum?! Aku merasa orang lain memberikan senyumnya hanya untuk memenuhi etika dalam bersosial, selebihnya kadang aku merasa senyum-senyum itu hanya dibuat-buat, dan akupun menanggapinya juga seperti itu. Aku tahu, perasaan seperti itu salah. Tapi entahlah..mungkin akupun memberikan senyum dengan tujuan seperti itu juga. “ raut wajahnya sedikit berubah.Kau tak salah, kawan. Justru kau telah jujur di balik kepura-puraanmu..ujarku dalam hati.“ Apa kau pernah mendapatkan senyum terindah itu?? “ dia pun bertanya.Pertanyaan yang aku nanti pun datang.“ Pernah. Aku tak tahu, tapi aku merasa senyum itu ditujukan hanya untukku. Indah..indah sekali, kawan! “ sepertinya wajahku memerah.“ Kenapa kau merasa senyum itu hanya untukmu?? “ kembali bertanya, dengan menyelidik.“…mmm…ketika dia tersenyum, mataku berhenti berkedip entah berapa lama. “ jawabku.“ Hanya itu?? “ tanyanya lagi.“ Jelas tidak! “ tegasku.“ Aku merasa nadiku berdenyut dengan merdu, seakan mengikuti irama detak hati. Seluruh tubuhku berdendang dengan sangat..sangat bahagia! Pada saat itu, aku tahu, seluruh organ-organ tubuhku tak mampu menyembunyikan perasaan bahagia itu di hadapannya. “ terangku.“ Aku tahu, kawan. Bukan sebentar aku mengenal kau. Aku turut bahagia untuk itu. “ ucapnya dengan nada senang.“ Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? “ ia bertanya.“ Entahlah… Aku sangat bahagia dengan senyumnya itu. Aku tahu, aku lelaki, pasti berharap untuk memiliki dirinya untuk mengisi hari-hariku, tapi untuk saat ini biarkan senyumnya dulu yang membuat bahagia hari-hariku. “ ucapku.“ Aku takut, kawan…sangat takut! “ tambahku.“ Apa yang kau takutkan?? “ ia bertanya dengan nada bingung.“ Aku takut bila aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, dia tidak lagi memberikan senyum terindahnya untukku. Kau pasti mengerti dengan apa yang aku maksud. “ jawabku.“ Aku mengerti, kawan. Kau takut kalu ternyata dia tersenyum seperti itu bukan hanya untukmu saja, tapi juga ke yang lainnya dalam hal hanya untuk memenuhi etika bersosial. Aku mengerti, kawan. Saat ini, nikmati saja senyum terindahnya itu. Selebihnya biarkan perasaanmu yang berperan. Dan percayalah, hatimu pasti kan memberikan pandangan yang terbaik tentang perasaanmu. “ tuturnya dengan bijak.“ Terima kasih, kawan. “ ucapku bangga.
Label:
Cerita
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar