Calon Novel, Chapter 2

“ selamat malam, dunia…! “ bisikku seakan memberikan ijin kepada dunia yang segera ingin menyerahkan tubuhnya kepada sang pelepas lelah, yang sangat dirindukan pada saat kebosanan telah menghimpit, atau sekedar menghindari kejamnya tekanan-tekanan di siang hari.
Inikah yang dinamakan insomnia, hujatku, disaat semua sudah tak sanggup menghitung bintang, sedangkan aku disini masih berkutat dengan jari, seakan aku sanggup menentukan jumlahnya. Hebat.
Entah apa yang ada dipikiranku, aku sendiri hingga malam ini masih kesulitan untuk mendefinisikan atau setidaknya paparkanlah rasa yang singgah di rumah pikiran-ku, ia datang pada saat malam telah menunjukkan wujud asli-nya, seakan hal itu sudah menjadi kebiasaannya, aku sendiri tak bisa menghilangkan kebiasaannya itu, tapi setidaknya kurangilah waktu singgahmu, pintaku memohon.
Malam ini ia sudah berdiri disana, di salah satu ruang pikiranku, tempat yang sangat ia suka, mungkin ia merasa nyaman disana, memang aku yang menyiapkan ruangan itu khusus untuknya sejak aku berteman dengannya, aku dikenalkan oleh kekasih sahabatku, kini mantan.

Apa aku harus menikmati kehidupan malam, berlindung pada kerlap-kerlip lampu gemerlap, berdiri lunglai mengikuti irama musik disco di lantai dansa setelah menenggak bergelas-gelas alcohol yang menjungkir balikkan otakku, hanya untuk menghindar dari bayanganmu malam ini, seperti malam-malam yang lalu?




“ siapa sih yang nelpon pagi-pagi gini! “ gerutuku sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10, sudah siang rupanya, setelah terdengar dering telfon dirumah kontrakan yang aku tempati dengan teman-temanku, kebetulan mereka masih betah dikampungnya masing-masing, jadi aku lagi sendirian di rumah ini, ya mau gak mau aku yang harus mengangkat telfon itu.
“ sebentar! “ teriakku menjawab deringan telfon yang seakan sudah tak sabar untuk di angkat. Untung aku butuh kamu, kalau tidak, entah apa yang akan kuperbuat padamu…

….


Dengan terburu-buru setelah kuliah diruangan yang berada dilantai 3, aku langsung menuju kantin. Akh..itu dia, menarik nafas lalu menghampirinya.
“ ada apa niy? Sepertinya gawat sekali sampe gak bisa di omongin di telefon segala. “
“ duduk aja dulu disini. ” jawabnya sambil menunjuk kursi yang berada tepat disampingnya. Serius sekali Renna…
Renna adalah seseorang yang belum lama ini mengisi hari-hari sahabatku, Decky. Entah dimana mereka berkenalan hingga menjadi sepasang kekasih karena mereka jelas-jelas berbeda tempat kuliah, bahkan berbeda suku, suku yang satu masih menganut faham yang kolot dengan kata lain menggunakan sistem perjodohan dan tidak boleh ini-itu, sedangkan suku yang satunya sudah mulai ber-teriak kebebasan. Tapi dia tidak begitu peduli, sesuatu yang wajar selaku pendatang, mulai bisa beradaptasi. Kadang aku memanggilnya dengan sebutan Penggombal Sejati, karena dia termasuk yang mudah menaklukkan bahkan meluluhlantakkan wanita, mungkin hanya hati saja yang tersisa, itu pun masih diracuni dengan virus ganas yang berhasil aku identifikasikan dan aku menamainya ‘kenangan indah’. Dia hanya tertawa bila aku berkata seperti itu, tanpa pernah membantah, kadang meng-amin-inya dengan suara lantang. Dalam hal ini, Renna termasuk yang telah terkena radiasi racunnya, wanita yang radiusnya dekat dengan sahabatnya sendiri, aku.
Aku sebenarnya belum begitu lama mengenal Renna, berawal karena Decky-lah ia menjadi dekat denganku… hanya berputar pada satu titik saja, mungkin…



“ pasti ada masalah lagi ya dengan Decky? Berbuat apa lagi dia? “ Tanyaku seakan sering terjadi hal-hal yang seperti ini.
“ ngga ada, kenapa sih selalu dikira aku ada masalah dengan Decky? “ jawabnya mengerti yang aku tanyakan.
“ ngga, biasanya gitu… jadi ada apa dong sebenarnya sampe perlu nelfon pagi-pagi buta? “ becanda menanggapi pertanyaannya.
“ apa! Pagi-pagi buta?! Itu udah jam 10 pagi menjelang siang tau! “ teriaknya seakan hanya kami saja di kantin itu, dengan wajah sedikit keheranan.
“ jadi kamu gak tau ya?! Itu kan masih pagi-pagi buta bagi kaum insomnerd alias insom mania…hehehe. “ aku memakluminya.
“ jadi ada apa dong? Soalnya kamu keliatannya serius sekali… “ Tanyaku untuk yang ketiga kalinya, dan semuanya hanya ia lewatkan saja, mungkin pertanyaanku sesusah pertanyaan ujiannya, mungkin…
“ ngga ada apa-apa kok, Cuma pengen ngajak kamu aja, kita pergi nonton yuk? bertiga sama Nadia. “ jawabnya tanpa ada perasaan bersalah karena telah membuatku sedikit panik.
Gimana ya…sebenarnya aku tak bisa menolaknya apalagi dia menyebutkan nama Nadia, seakan ia telah merekomendasikan nama itu untuk mengajakku…
“ oke. Ayo kita berangkat. Nadia udah nunggu disana… “ ia menarik tanganku setelah membayar makanan, padahal aku belum meng-iya-kannya.
“ eh, kok maksa sih ngajak nontonnya?! Aku kan belom bilang ok “ aku tak begitu heran, ini yang kesekian kalinya ia tiba-tiba menarik tanganku tanpa perlu mendengarkan persetujuanku.
“ oke deh, mau diapain lagi… tapi kamu udah minta ijin belum sama Decky? “ tanyaku mempertegas salah satu batasan dalam suatu hubungan kasih, yaitu meminta ijin.
“ tenang aja…udah kok, waktu dia nelfon aku tadi malam, malah dia menyuruh memaksa kamu untuk ikut nonton bareng aku dan Nadia! “ jawabnya lega seakan telah memenuhi salah satu kewajibannya sebagai seorang kekasih yang benar.
“ oh iya, besok dia udah balik lagi kesini…bareng Rama. “ timpalnya lagi.
“ ya udah, emang kita mau nonton film apa? “
“ film Virgin…”




“ kemarin jadi loe nonton bareng Renna dan Nadia? “ Tanya Decky seakan memastikan bahwa Renna tidak berbohong soal ijinnya untuk pergi nonton.
“ jadilah… katanya loe yang nyuruh Renna untuk maksa gue supaya mau pergi nonton? Mau gak mau, tangan gue udah keburu ditarik… “ jawabku biasa saja.
“ ooo…jadi selama ini loe ya selingkuhannya Renna! “
“ waduh, jadi loe baru tau, Deck?! Udah lama lagi, Fathan maen dibelakang loe! “ timpal Rama untuk meramaikan suasana. Rama sebenarnya termasuk yang jarang membahas tentang hubungan kasih seseorang, dia pendiam, berbeda sekali dengan Decky, Padahal mereka sudah lama bersahabat.
“ Gue emang lagi doyan ngerebut cewe temen sendiri, udah lama lagi gue main dibelakang loe! “
“ dasar gila loe ya…hahaha.. “
“ hahaha… “ kami pun tertawa bersama.
Itulah kami, hampir semua obrolan kami akhiri dengan canda, bahkan jika obrolan itu termasuk kategori serius sekalipun, termasuk soal hati, Gila.

“ gimana jalinan cinta kasih loe ama Renna? “ Tanya ku pada Decky.
“ apa, jalinan cinta kasih? Kami kan hanya pacaran. Kami fun-fun aja kok… “
“ dasar loe ya…temen gw tuh sekarang. Serius dikit kek sama yang namanya cinta. Dia sepertinya cinta banget tuh ama loe… “
“ waduh, gw masih males ngomongin cinta, takut sakit, perih men…perih… “ jawabnya seakan hendak menceritakan kembali masa lalunya yang menurutku sepertinya masih sulit untuk ia lupakan, aku maklum.

Begitu sakitnya kah disakiti oleh cinta, hingga meninggalkan jejak yang begitu tertanam dalam, sampai ia sendiri begitu sulit untuk menghapus jejak yang telah merusak taman hatinya, hanya untuk menghias kembali taman hatinya dengan bunga indah yang keharumannya berasal dari surga?
Begitu sakitnya kah dikhianati oleh cinta, hanya karena cinta telah berlabuh di muara hati yang lain?
Kebosanan apa kah yang telah berhasil merayunya, merangkulnya tanpa kenal arti sebuah kesetiaan?
Kesetiaannyalah yang pantas kau panggil dengan nama Cinta.
Kesetiaannyalah yang telah menumbangkan kemunafikkan.
Cintalah yang telah membuatnya terus hidup.
Hanya Cinta yang mampu…

0 komentar:

Posting Komentar